INDOZONE.ID - Jatuh cinta sering kali digambarkan sebagai momen yang indah dan penuh bunga.
Namun, bagi sebagian orang, perasaan cinta yang terlalu mendalam justru bisa mendatangkan rasa sakit secara emosional maupun fisik, yang dalam dunia psikologi sering disebut dengan istilah lovesickness.
Lovesickness atau sakit cinta merupakan suatu keadaan emosional yang intens, ketika seseorang merasakan gejolak psikologis dan fisik yang mendalam akibat urusan asmara.
Kondisi ini umumnya dipicu oleh beberapa situasi emosional, seperti cinta yang bertepuk sebelah tangan, fase berat setelah mengalami perpisahan atau patah hati, hingga rasa duka mendalam akibat ditinggal wafat oleh pasangan.
Baca juga: Sering Dijadikan Minuman Favorit, Bubuk Cokelat Ternyata Punya Manfaat Tak Terduga untuk Pernapasan!
Meskipun bukan merupakan kategori gangguan medis resmi dalam dunia psikiatri, para ahli sepakat bahwa fenomena ini nyata dan mampu mempengaruhi stabilitas hormon serta perilaku seseorang sehari-hari.
Kondisi ini merujuk pada keadaan emosional yang intens ketika seseorang terobsesi pada sosok yang dicintainya, terutama saat mereka tidak bisa bersama.
Keadaan ini umumnya dipicu oleh beberapa situasi, seperti cinta yang bertepuk sebelah tangan, mengalami perpisahan (patah hati), hingga rasa duka akibat ditinggal wafat oleh orang tercinta.
Mari kita bedah lebih lanjut mengenai gejala dan cara menghadapi kondisi ini agar kesehatan mentalmu tetap terjaga!
Baca juga: Arti Jazakallah Khairan, Jazakillah, dan Jazakumullah serta Cara Menjawabnya
Gejala-gejala Lovesickness yang Perlu Diwaspadai
Penurunan Konsentrasi dan Fokus
Seseorang yang mengalami sakit cinta biasanya akan kesulitan memusatkan perhatian pada aktivitas sehari-hari, seperti pekerjaan atau kuliah, karena pikirannya terus-menerus tersita oleh sosok ideal tersebut.
Gangguan Tidur atau Insomnia
Gejolak emosi dan kecemasan yang tinggi sering kali membuat penderitanya terjaga di malam hari, kesulitan untuk memejamkan mata, atau mengalami pola tidur yang berantakan.
Perasaan Depresi dan Cemas Berlebih
Ketidakmampuan untuk bersatu dengan orang yang dicintai dapat memicu rasa sedih yang mendalam, frustrasi, kesepian, hingga serangan kecemasan yang konstan.
Obsesi pada Barang Peninggalan (Hoarding)
Gejala unik lainnya adalah adanya kecenderungan untuk menyimpan atau mengumpulkan barang-barang yang berkaitan dengan orang tersebut secara berlebihan sebagai bentuk pelampiasan rasa rindu.
Baca juga: Yuk Pahami Dirimu! Mengenal Pentingnya Mental Health Awareness secara Tepat
Reaksi Fisik pada Tubuh
Secara biologis, saat memikirkan orang yang dicintai, detak jantung penderita bisa meningkat drastis secara mendadak disertai dengan pelebaran pupil mata akibat pelepasan hormon stres dan ketertarikan.
Mengatasi Lovesickness demi Pemulihan Diri
Untuk bisa keluar dari jebakan emosi yang melelahkan ini, mengalihkan fokus pikiran secara aktif merupakan kunci utama agar kamu bisa menyembuhkan luka batin secara bertahap.
Jangan biarkan dirimu terus terpuruk dalam kesedihan melankolis atau mengisolasi diri dari lingkungan sosial.
Mulai menyibukkan diri dengan hobi baru, rutin berolahraga, serta sebisa mungkin membatasi kontak atau menghindari interaksi dengan orang tersebut akan membantu menstabilkan kembali senyawa kimia di otakmu.
Apabila semua penanganan mandiri dan pengalihan aktivitas di atas sudah kamu terapkan namun perasaan sesak serta obsesi tersebut belum juga mereda, ada baiknya kamu mencari bantuan dari luar.
Mencurahkan isi hati kepada sahabat dekat atau anggota keluarga terpercaya bisa menjadi langkah awal yang baik untuk mengurangi beban mental.
Namun, jika kondisinya mulai mengganggu aktivitas harian secara ekstrem, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan psikolog atau profesional kesehatan mental agar kamu mendapatkan terapi yang tepat demi masa depan yang lebih sehat.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Webmd.com