Selasa, 09 JUNI 2026 • 15:30 WIB

Sering Nggak Enakan dan Susah Menolak? Hati-Hati, Kebiasaan Ini Bisa Merusak Kesehatan Mental Tanpa Disadari!

Author

Ilustrasi zodiak yang sulit mengalah (Unsplash/OSPAN ALI)

INDOZONE.ID - “Gapapa kok.” Dua kata sederhana ini mungkin jadi kalimat yang paling sering diucapkan banyak orang dalam kehidupan sehari-hari. Saat teman meminta bantuan di tengah jadwal yang sudah padat, jawabannya “gapapa kok”. Ketika pekerjaan tambahan datang saat energi sudah hampir habis, tetap bilang “aku bisa”. Bahkan saat tubuh dan pikiran sebenarnya sedang butuh istirahat, banyak orang memilih tetap memaksakan diri demi memenuhi harapan orang lain.

Lama-kelamaan, kebiasaan ini terasa begitu normal hingga sering dianggap bukan masalah. Padahal, di balik sikap yang selalu berusaha mengerti dan menyenangkan orang lain, ada banyak orang yang diam-diam sedang kelelahan. Mereka terus memberi waktu, tenaga, dan perhatian untuk orang di sekitarnya, tetapi lupa menyisakan ruang yang cukup untuk dirinya sendiri.

Akibatnya, bukan hanya tubuh yang terasa lebih cepat lelah. Pikiran juga menjadi lebih mudah stres, suasana hati tidak stabil, dan energi seolah habis tanpa alasan yang jelas. Ironisnya, banyak orang tidak menyadari bahwa sumber kelelahan tersebut bukan selalu berasal dari pekerjaan yang menumpuk atau aktivitas yang padat, melainkan dari kebiasaan mengabaikan kebutuhan diri sendiri secara terus-menerus.

Jika dibiarkan, kondisi ini bisa membuat seseorang kehilangan keseimbangan antara memenuhi kebutuhan orang lain dan merawat dirinya sendiri. Padahal, menjaga kesehatan fisik dan mental bukanlah bentuk keegoisan. Justru, memberi perhatian pada diri sendiri adalah langkah penting agar tetap sehat, bahagia, dan mampu menjalani aktivitas sehari-hari dengan lebih baik.

Baca juga: Banyak Orang Cari Cara Self-Care yang Ribet, Padahal Kuncinya Bisa Dimulai dari Kebiasaan Kecil Ini!

Self-Care Itu Bukan Soal Healing ke Pantai atau Ngopi Cantik

Belakangan ini, istilah self-care sering dikaitkan dengan liburan, staycation, belanja, atau menghabiskan waktu di tempat estetik untuk melepas penat. Tidak heran jika banyak orang mengira merawat diri selalu identik dengan kegiatan yang menyenangkan dan menguras dompet. Padahal, esensi self-care jauh lebih sederhana dari itu.

Merawat diri bukan hanya tentang mencari pelarian sesaat dari rasa lelah, tetapi tentang bagaimana seseorang menjaga dirinya tetap sehat secara fisik, mental, dan emosional setiap hari. Bahkan, beberapa bentuk self-care yang paling berdampak justru sering dianggap membosankan karena dilakukan secara rutin.

Tidur cukup meski sedang asyik bermain media sosial, memilih makanan yang lebih sehat, meluangkan waktu untuk berolahraga, membatasi hal-hal yang memicu stres, hingga berani mengambil jeda ketika merasa kewalahan adalah bagian dari self-care yang sering terlupakan.

Mungkin hasilnya tidak langsung terlihat dalam semalam. Namun kebiasaan-kebiasaan kecil itulah yang perlahan membantu tubuh tetap bertenaga, pikiran lebih jernih, dan emosi lebih stabil saat menghadapi berbagai tekanan hidup. Dengan kata lain, self-care bukan tentang sesekali kabur dari masalah. Self-care adalah cara menjaga diri agar tidak tumbang ketika masalah datang.

Jangan Abaikan Sinyal Tubuh dan Pikiran

Ilustrasi burnout (Freepik)

Di tengah kesibukan yang padat, banyak orang memaksa dirinya terus produktif tanpa memberi kesempatan untuk beristirahat. Mereka tetap bekerja saat lelah, tetap tersenyum saat tertekan, dan tetap mengiyakan berbagai permintaan meski sebenarnya sudah kewalahan.

Jika dibiarkan terus-menerus, kondisi ini bisa memicu stres berkepanjangan, kelelahan emosional, hingga burnout yang membuat aktivitas sehari-hari terasa semakin berat.

Karena itu, penting untuk mengenali kapan tubuh dan pikiran membutuhkan jeda. Mengambil waktu untuk diri sendiri bukanlah tanda kemalasan, melainkan langkah penting untuk menjaga kesehatan secara menyeluruh.

Kebiasaan yang Paling Sulit Dilakukan: Berani Bilang “Tidak”

Salah satu bentuk self-care yang sering diabaikan adalah kemampuan untuk menolak.

Banyak orang merasa tidak enak hati ketika harus mengatakan “tidak” kepada teman, pasangan, keluarga, atau rekan kerja. Mereka khawatir dianggap egois, tidak peduli, atau mengecewakan orang lain.

Padahal, terus mengatakan “iya” saat kondisi diri sendiri sudah penuh justru bisa menjadi bumerang. Semakin banyak beban yang ditanggung, semakin besar risiko mengalami stres, mudah tersinggung, kehilangan motivasi, bahkan merasa kehabisan energi secara mental.

Belajar menetapkan batasan bukan berarti menjadi pribadi yang cuek. Sebaliknya, hal itu menunjukkan bahwa seseorang memahami kapasitas dirinya dan tahu kapan harus memprioritaskan kesehatan serta kesejahteraan pribadi.

Baca juga: Orang Tua Wajib Tahu! Bukan Cuma Orang Dewasa, Anak-anak Juga Bisa Burnout

Merawat Diri Bukan Tindakan Egois

Masih banyak yang merasa bersalah saat memilih diri sendiri. Padahal, seseorang tidak bisa terus memberi jika dirinya sendiri sudah kelelahan.

Ketika kebutuhan pribadi terpenuhi, energi menjadi lebih terjaga, suasana hati lebih stabil, dan hubungan dengan orang lain pun bisa berjalan lebih sehat. Inilah alasan mengapa self-care bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan yang penting untuk dilakukan setiap hari.

Jadi, jika selama ini kamu terlalu sering mengorbankan diri demi menyenangkan semua orang, mungkin sudah waktunya mulai memberi perhatian lebih pada dirimu sendiri. Karena terkadang, kata “tidak” yang diucapkan pada orang lain justru menjadi bentuk “iya” terbaik untuk kesehatan dan kebahagiaanmu.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Psychologytoday.com

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU