INDOZONE.ID - Saat anak batuk orangtua pasti langsung stres. Apalagi kalau batuknya tak kunjung sembuh, yang membuat aktivitas anak jadi terganggu.
Dokter Spesialis Pernapasan Anak dari Rumah Sakit Sunway Kuala Lumpur, Malaysia, Dr Noor Zehan mengatakan, tak jarang orangtua menyepelekan dampak ketika anak mengalami batuk.
Padahal, batuk yang lama sembuh bisa menjadi tanda gangguan kesehatan dan memerlukan penanganan lebih lanjut.
"Batuk yang terus-menerus pada malam hari dapat mengganggu kualitas tidur anak, membuatnya lesu pada pagi hari, dan berdampak pada aktivitasnya,” ujar Dr Noor Zehan saat MediOne Gathering di kawasan Lebak Bulus, Jakarta Selatan, baru-baru ini.
Baca juga: Suka Minum Alkohol Sejak Muda Tingkatkan Risiko Kanker Hati
Ia menyoroti kasus batuk kronis pada anak yang berlangsung lebih dari 4 minggu. Jika anak tengah mengalaminya, maka orangtua harus aware dan langsung periksakan ke dokter.
"Batuk kronis pada anak tidak boleh dianggap remeh. Jika berlangsung lebih dari empat minggu, disertai sesak, berat badan turun, atau mengganggu tidur malam, orangtua perlu segera memeriksakan anak,” imbuhnya.
Satu hal lagi yang membuat orangtua harus waspada adalah ketika anak batuk disertai sesak napas, mengi, atau sering kambuh pada malam hari. Bisa-bisa ini sebagai salah satu gejala asma, loh.
Kapan Waktu Tepat Periksakan Anak ke Dokter saat Batuk?
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa anak yang mengalami batuk disertai demam tinggi dan tidak membaik dalam 24–48 jam, setelah diberikan obat penurun panas perlu segera diperiksakan ke dokter.
Hal yang sama juga berlaku jika kondisi batuk dan demam semakin berat.
Sementara itu, jika batuk tidak disertai demam tetapi terjadi setiap hari, baik batuk kering maupun berdahak, dan berlangsung selama 3-4 minggu, maka diperlukan pemeriksaan lebih lanjut ke ahli pernapasan anak.
Menurutnya lagi, pada anak usia 1-4 tahun, batuk yang membaik dalam beberapa hari lalu muncul kembali masih bisa tergolong infeksi saluran napas biasa.
Namun, jika dahak berwarna hijau atau muncul gejala lain yang mengkhawatirkan, anak tetap perlu diperiksakan.
Penyebab Batuk Kronis pada Anak
Pemilik nama Dr. Noor Zehan Binti Abdul Rahim tersebut mengaku cukup sering menerima pasien anak asal Indonesia yang mengalami batuk kronis.
Usia terkecil adalah bayi newborn dan usia toodler di bawah 5 tahun.
"Pasien anak dari Indonesia yang datang umumnya mengalami batuk kronis. Penyebabnya beragam, mulai dari kondisi tempat tinggal yang padat penghuni hingga kualitas udara yang kurang baik," terangnya.
Dia mengakui bahwa di Indonesia sering mengalami tingginya paparan polusi udara, asap rokok di mana-mana, debu, maupun bahan kimia yang menguap di lingkungan sekitar.
Baca juga: Jangan Nunggu Sakit Dulu! Ini Cara Sederhana Merawat Diri agar Tetap Sehat dan Anti Stres
Kondisi ini dapat memengaruhi kualitas udara yang dihirup sehari-hari.
"Paparan polusi udara secara terus-menerus dapat menyebabkan peradangan saluran napas yang memengaruhi refleks saraf di tenggorokan sehingga memicu batuk kronis pada anak," tutupnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan