INDOZONE.ID - Pernah nggak, merasa capek secara mental padahal sebenarnya tidak ada masalah besar yang sedang terjadi?
Namun, pikiran tetap terasa penuh, overthinking muncul tanpa henti, dan kesalahan kecil yang seharusnya sepele justru terus terbayang sampai bikin mood berantakan seharian.
Kalau sering mengalami hal seperti ini, bisa jadi penyebabnya bukan sekedar banyaknya aktivitas atau tekanan dari luar.
Ada pola pikir tertentu yang tanpa disadari ikut memicu rasa cemas dan stres dalam kehidupan sehari-hari.
Baca juga: Stres Berat Padahal Tidak Ada Masalah Besar? Kebiasaan Ini Bisa Jadi Biang Keladinya!
Seorang praktisi klinis yang telah puluhan tahun mendalami gangguan kecemasan menemukan bahwa ada beberapa cara berpikir yang kerap menjadi pemicu utama stres berkepanjangan.
Salah satu yang paling sering ditemui adalah radical perfectionism, yaitu kecenderungan untuk menuntut diri sendiri agar selalu sempurna dalam segala hal.
Sekilas, menjadi perfeksionis mungkin terdengar seperti hal yang positif.
Namun, ketika standar yang dipasang terlalu tinggi dan nyaris mustahil dicapai, pola pikir ini justru bisa berubah menjadi sumber tekanan yang menguras energi dan membuat seseorang sulit merasa cukup dengan dirinya sendiri.
Baca juga: Saran Ahli Gizi: Penuhi Nutrisi Gen Alpha di Tengah Aktivitas Padat
Saat “Harus Sempurna” Justru Jadi Sumber Tekanan
Perfeksionisme sering dipandang sebagai sifat yang patut dibanggakan. Orang yang perfeksionis biasanya dikenal teliti, disiplin, dan punya standar tinggi terhadap diri sendiri.
Tak sedikit pula yang percaya bahwa sifat ini adalah salah satu kunci untuk meraih kesuksesan.
Namun, masalah mulai muncul ketika keinginan untuk memberikan hasil terbaik berubah menjadi tuntutan untuk selalu sempurna.
Alih-alih memotivasi, pola pikir ini justru bisa menjadi sumber stres yang melelahkan secara emosional.
Baca juga: Pantas Saja Gampang Stres! Banyak Orang Ternyata Masih Mengabaikan Bentuk Self-Care yang Satu Ini!
Seseorang yang terjebak dalam perfeksionisme ekstrim cenderung melihat segala sesuatu secara hitam-putih.
Tidak ada ruang untuk istilah “sudah cukup baik” atau “yang penting sudah berusaha maksimal”. Di mata mereka, hasil hanya terbagi menjadi dua: sempurna atau gagal total.
Misalnya, seorang siswa mendapat nilai 97 dari 100. Bagi kebanyakan orang, angka tersebut tentu merupakan pencapaian yang membanggakan.
Namun, bagi seorang perfeksionis, perhatian justru tertuju pada tiga poin yang hilang. Mereka lebih fokus pada apa yang kurang daripada menghargai apa yang sudah berhasil diraih.
Baca juga: Bukan Sekedar Peliharaan! Ini Cara Tak Terduga Hewan Bisa Bantu Kamu Sehat Mental dan Fisik
Pola serupa juga sering terjadi di lingkungan kerja. Seseorang bisa saja berhasil menyelesaikan presentasi dengan baik dan mendapat respons positif dari rekan kerja.
Akan tetapi, hanya karena sempat salah mengucapkan satu kalimat atau lupa menyampaikan satu detail kecil, mereka merasa seluruh penampilannya gagal.
Akibatnya, rasa puas menjadi sesuatu yang sulit dirasakan. Setiap pencapaian seolah selalu memiliki kekurangan yang harus disesali.
Jika dibiarkan terus-menerus, kebiasaan ini tidak hanya menguras energi, tetapi juga dapat memicu kecemasan, menurunkan kepercayaan diri, hingga membuat seseorang takut mencoba hal baru karena khawatir hasilnya tidak sesuai harapan.
Padahal, tidak semua hal harus berjalan sempurna untuk bisa dianggap berhasil. Terkadang, menerima bahwa manusia memang bisa melakukan kesalahan justru menjadi langkah penting untuk menjaga kesehatan mental tetap seimbang.
Mengapa Kondisi Ini Bisa Memicu Stres?
Ketika seseorang terus menetapkan standar yang nyaris mustahil dicapai, tubuh akan berada dalam kondisi siaga dalam waktu lama.
Setiap tugas, ujian, atau tanggung jawab dipandang sebagai ancaman yang dapat menentukan harga diri mereka.
Tekanan untuk tidak melakukan kesalahan membuat otak terus bekerja dalam mode waspada.
Kondisi ini dapat meningkatkan ketegangan emosional dan membuat seseorang lebih rentan mengalami kecemasan, kelelahan mental, hingga sulit menikmati proses hidup itu sendiri.
Ironisnya, perfeksionisme tidak selalu menghasilkan performa yang lebih baik.
Dalam banyak kasus, rasa takut gagal justru memicu kebiasaan menunda pekerjaan, terlalu banyak berpikir, atau menghindari tantangan baru karena khawatir hasilnya tidak sesuai ekspektasi.
Belajar Berdamai dengan Ketidaksempurnaan
Memiliki target tinggi bukanlah hal yang salah. Yang perlu diperhatikan adalah apakah standar tersebut masih realistis dan sehat untuk dijalani.
Baca juga: Jangan Anggap Remeh, Kenali Gejala Batuk Kronis pada Anak
Tidak semua kesalahan adalah tanda kegagalan. Tidak semua hasil yang kurang sempurna berarti usaha yang dilakukan sia-sia.
Memberi ruang bagi diri sendiri untuk belajar, berkembang, dan melakukan kesalahan merupakan bagian penting dari menjaga kesehatan mental.
Pada akhirnya, hidup tidak selalu tentang menjadi yang paling sempurna. Terkadang, menerima bahwa “cukup baik” juga merupakan sebuah pencapaian justru menjadi langkah besar untuk mengurangi stres yang selama ini terasa begitu melelahkan.
Jadi, jika akhir-akhir ini kamu sering merasa cemas tanpa alasan yang jelas, coba perhatikan kembali standar yang selama ini kamu tetapkan untuk diri sendiri.
Baca juga: Suka Minum Alkohol Sejak Muda Tingkatkan Risiko Kanker Hati
Bisa jadi, bukan beban hidup yang terlalu berat, melainkan tuntutan untuk selalu sempurna yang diam-diam menguras energi dan ketenangan batin.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Psychologytoday.com