Ilustrasi orang tua dan anak berbicara langsung (LiveAbout)
INDOZONE.ID - Ngomongin soal hubungan antara anak dan orang tua, banyak banget yang bilang ini adalah hal paling penting dalam keluarga. Tapi kenyataannya, nggak sedikit anak yang justru merasa gengsi, takut dinilai, atau malah nggak nyaman bercerita kepada orang tua tentang apa pun, apalagi hal yang sensitif atau personal.
Kondisi seperti ini bikin kita bertanya, “Gimana caranya supaya anak mau cerita apa saja tanpa takut dihakimi atau disalahkan?” Tenang! Artikel ini bakal kasih kamu penjelasan naratif, tips praktis, dan rahasia yang benar-benar bisa bikin anak nyaman bercerita, berdasarkan ilmu psikologi dan saran dari pakar komunikasi anak internasional.
Sebelum kita bahas solusinya, kamu harus ngerti dulu alasan anak enggan bercerita ke orang tua:
Takut Dimarahi atau Dipaksa Berubah
Anak sering memilih tidak bercerita karena takut akan dimarahi atau dipaksa berubah secara drastis. Kalau yang terbayang adalah hukuman atau tuntutan, wajar kalau mereka lebih memilih diam.
Baca juga: 3 Cara Agar Anak Mau Terbuka dan Berkomunikasi dengan Orangtua
Orang Tua Bertanya, Tapi Tidak Benar-Benar Mendengarkan
Tidak semua pertanyaan dari orang tua membuat anak merasa aman untuk bercerita. Banyak obrolan yang berhenti pada jawaban singkat seperti “iya” atau “nggak tahu”. Ini biasanya jadi tanda kalau anak merasa pendapatnya tidak didengarkan atau dianggap tidak penting.
Anak Belum Terbiasa Mengekspresikan Emosi
Berkomunikasi bukan cuma soal berbicara, tapi juga soal mengungkapkan perasaan. Kalau anak belum terbiasa atau belum tahu cara menjelaskan apa yang mereka rasakan, diam sering jadi pilihan paling mudah.
Ilustrasi anak dan orang tua. (freepik)
Kalau anak merasa bakal dinilai, dibentak, atau disuruh berubah, mereka akan langsung masuk mode tutup mulut. Coba ganti respons kamu jadi:
“Aku dengar kamu…”
“Aku mau ngerti dari sisi kamu…”
Ini membantu anak merasa aman dan dihargai tanpa takut dihukum.
Pertanyaan seperti “Bagaimana hari kamu?” sering bikin jawaban pendek seperti “Baik…”. Coba ganti dengan pertanyaan yang bikin mereka berpikir dan cerita lebih panjang, misalnya:
“Apa yang bikin kamu tertawa hari ini?”
“Ada hal seru apa di sekolah yang pengen kamu ceritakan?”
“Kalau kamu bisa pilih superpower, apa dan kenapa?”
Saat bertanya, jangan langsung terlalu antusias. Biarkan mereka bercerita dulu.
Ini penting banget. Jangan memotong saat anak sedang bercerita. Biarkan mereka selesai dulu, baru kamu merespons. Kalau anak merasa kamu benar-benar mendengarkan, mereka akan lebih sering berbagi cerita penting di lain waktu.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Psychologytoday.com, Unicef.org