Ilustrasi people pleaser (Freepik/benzoix)
INDOZONE.ID - Merasa mudah cemas, takut mengecewakan orang lain, atau terus-menerus memikirkan penilaian sekitar?
Bisa jadi penyebabnya bukan sekadar tekanan pekerjaan atau masalah sehari-hari. Ada pola pikir tertentu yang tanpa disadari justru membuat seseorang terjebak dalam lingkaran stres berkepanjangan.
Berdasarkan pengalaman klinis selama puluhan tahun dalam menangani gangguan kecemasan, sejumlah ahli menemukan bahwa terdapat beberapa pola pikir yang berkontribusi besar terhadap munculnya tekanan emosional.
Salah satu yang paling sering ditemukan adalah kebiasaan menjadi people pleaser atau terlalu berusaha menyenangkan orang lain.
Baca juga: Stres Berat Padahal Tidak Ada Masalah Besar? Kebiasaan Ini Bisa Jadi Biang Keladinya!
Sekilas, sikap yang selalu ingin membantu, menghindari konflik, dan berusaha membuat semua orang merasa nyaman terlihat sebagai sesuatu yang positif.
Namun, ketika kebutuhan dan penilaian orang lain selalu ditempatkan di atas diri sendiri, kondisi ini dapat berubah menjadi sumber stres yang serius.
Seseorang yang memiliki kecenderungan chronic people-pleasing biasanya sangat bergantung pada validasi dari luar.
Mereka merasa tenang ketika diterima dan dipuji, tetapi mudah diliputi kecemasan saat khawatir membuat orang lain kecewa. Beberapa contoh dalam kehidupan sehari-hari seperti:
Baca juga: Saran Ahli Gizi: Penuhi Nutrisi Gen Alpha di Tengah Aktivitas Padat
Baca juga: Pantas Saja Gampang Stres! Banyak Orang Ternyata Masih Mengabaikan Bentuk Self-Care yang Satu Ini!
Setiap ucapan dipikirkan berulang kali, setiap keputusan dipertimbangkan berdasarkan respons orang lain, dan konflik sekecil apa pun bisa terasa mengancam.
Orang yang terbiasa menyenangkan semua pihak kerap merasa harus memenuhi ekspektasi orang lain agar tetap diterima.
Mereka cenderung sulit mengatakan “tidak”, bahkan ketika kondisi fisik maupun mental sudah kelelahan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Psychologytoday.com