Ilustrasi periksa katarak. (Pixabay/12019)
Katarak merupakan kondisi mata di mana lensa mata menjadi keruh dan berawan yang kerap dialami golongan usia tua. Lensa yang keruh pada mata akan membuat cahaya tidak bisa menembusnya.
Penyakit katarak juga memiliki tingkat variasi keburaman mulai dari sedikit saja keruhnya atau buramnya, hingga sampai pada keburaman total.
Di kutip dari laman Depkes.go.id, hasil survei kebutaan Rapid Assessment of Avoidable Blindness (RAAB) tahun 2014, 2016 oleh Persatuan Dokter Spesialis Mata Indonesia (Perdami) dan Badan Litbangkes Kementerian Kesehatan di lima belas provinsi yakni (Sumatera Barat, Sumatera Utara, Sumatera Selatan, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Selatan, Bali, NTB, NTT, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, Maluku dan Papua Barat) diketahui angka kebutaan mencapai 3 persen dan katarak merupakan penyebab kebutaan tertinggi sebesar 81 persen. Survei tersebut dilakukan dengan sasaran populasi usia 50 tahun ke atas.
Ketua PP Persatuan Dokter Spesialis Mata Indonesia (Perdami) dr. M. Siddik, Sp. M mengatakan, kurang lebih 90 persen ganggguan penglihatan terdapat di wilayah penduduk berpenghasilan rendah.
"81 persen kebutan terjadi pada usia 50 tahun atau lebih," katanya.
Kendati demikian, ia tidak menampik gangguan penglihatan bisa menyerang semua umur termasuk bayi dan balita. Mereka merupakan salah satu kelompok berisiko terhadap gangguan penglihatan.
Katarak umumnya berkembang secara perlahan. Awalnya, penderita tidak akan menyadari ada gangguan penglihatan, karena hanya sebagian kecil lensa mata yang mengalami katarak.
Namun, seiring waktu berjalan katarak akan memburuk dan memunculkan sejumlah gejala seperti:
Selain usia yang sudah terbilang tua, banyak faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang terkena katarak, antara lain:
Dalam siaran persnya, Ketua PP Persatuan Dokter Spesialis Mata Indonesia (Perdami) dr. M. Siddik, Sp. M mengklaim gangguan penglihatan termasuk kebutaan sebetulnya dapat dicegah dan ditangani.
"Melalui proses skrining dan deteksi dini adalah kunci utama menemukan kasus sedini mungkin dengan intervensi yang tepat,"katanya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: