Detail cincin tunangan Taylor Swift. (Instagram/taylorswift)
INDOZONE.ID - Bintang pop Taylor Swift kembali mencuri perhatian publik dengan pengumuman tunangannya dengan Travis Kelce.
Cincin yang menjadi simbol lamaran itu disebut-sebut menandai kembalinya tren cincin tunangan dengan gaya klasik.
Melalui unggahan di akun Instagram pribadinya pada Selasa (27/8/2025), Taylor Swift memilih cincin antik yang terinspirasi dari gaya "pusaka" mencerminkan tren batu permata kuno.
Baca juga: Taylor Swift dan Travis Kelce Resmi Bertunangan Setelah 2 Tahun Pacaran
Taylor Swift dan Travis Kelce resmi tunangan (Instagram/taylorswift)
Seperti dalam lirik lagu klasiknya tahun 2008 "Love Story", Taylor Swift membayangkan lamaran impiannya.
"He knelt to the ground and pulled out a ring. And said, ‘Marry me, Juliet'. (Dia berlutut dan mengeluarkan cincin / Lalu berkata, 'Menikahlah denganku, Juliet)" bunyi lirik di lagu "Love Story" Taylor Swift.
Tujuh belas kemudian, Taylor Swift akhirnya mendapatkan lamaran bak cerita dongeng.
Pemain football, Travis Kelce melamarnya dengan cincin berhiaskan berlian dengan potongan cushion cut tua (potongan berlian dengan sudut-sudut membulat) yang memanjang, bertahtakan pada bingkai emas kuning.
Detail cincin tunangan Taylor Swift. (Instagram/taylorswift)
Cincin tersebut dirancang oleh Kindred Lubeck dari Artifex Fine Jewelry di New York, yang dikenal sebagai pembuat perhiasan berukir tangan dengan batu permata alami.
"Ini bukan sekadar perhiasan yang mencolok, melainkan lebih tentang estetika, sebuah berlian yang benar-benar indah," kata Marion Fasel, seorang sejarawan perhiasan dan penulis buku The History of Diamond Engagement Rings: A True Romance.
Baca juga: Wow! Cincin Lamaran Taylor Swift dan Travis Kelce Ditaksir hingga Rp20,3 Miliar
Ia mengatakan, teman-temannya di dunia perhiasan sangat antusias dengan cincin ini karena kualitasnya yang tinggi.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: The New York Times