INDOZONE.ID - Demo tumpah di ibu kota Bangladesh, Dakha sejak bulan lalu. Setidaknya 180.000 buruh garmen turun ke jalan untuk memperjuangkan upah layak, yang nilainya lebih tinggi dari upah minimum yang baru ditetapkan pemerintah.
Protes meningkat sejak pemerintah mengumumkan kenaikan upah minimum bagi para pekerja mulai 1 Desember, menjadi 12.500 taka atau sekitar Rp1,76 juta.
Upah itu dirasa terlalu rendah, mengingat upah untuk para buruh garmen tidak pernah naik sejak 2018, yang mana saat itu hanya sebesar 8.000 taka (Rp1,13 juta).
Para buruh menghendaki kenaikan upah setidaknya mencapai 23.000 taka atau Rp3,24 juta untuk mencukupi kebutuhan hidup mereka dan keluarga.
Alih-alih didengar, keluhan para buruh justru mendapat sentimen negatif dari para pemilik pabrik dan aparat berwajib. Protes itu ditanggapi dengan ancaman dan kekerasan.
Baca Juga: Ada yang Mau Beli Rok Model Handuk dari Balenciaga? Harganya Bikin Melongo
Para polisi memukuli tangan, kaki dan badan para buruh tanpa ampun. Karena kerusuhan ini, tiga nyawa buruh pabrik garmen melayang, diduga diakibatkan oleh tembakan yang dilepaskan polisi kepada para demonstran.
Di sisi lain, pemilik-pemilik pabrik mengancam para buruh dengan 'tidak kerja, tidak dibayar' kepada para buruh yang mengikuti demonstrasi. Selain itu, para pekerja juga diancam bakal dipecat apabila terus melancarkan protes.
Asosiasi Produsen dan Eksportir Garmen Bangladesh, bahkan menyerukan agar semua perekrutan pabrik dihentikan, sehingga menyulitkan para pengunjuk rasa yang sudah dipecat untuk mendapatkan pekerjaan di tempat lain.
Namun, ancaman ini tidak diindahkan Naima Islam. Kepada The Guardian, Islam bilang, dirinya akan menyelesaikan perjuangan ini hingga akhir.
"Mereka berusaha membungkam kami namun kami tidak akan mundur. Mereka bisa saja mengancam dan mengalahkan kami, namun yang tidak mereka pahami adalah, kami tidak akan rugi apa-apa. Jika kami menerima tawaran upah konyol mereka, kami akan mati kelaparan," katanya, dikutip Sabtu (9/12/20230).
Banyak yang percaya bahwa ini adalah upaya untuk menekan gerakan kenaikan upah secara paksa. Tapi hal itu tidak menghalangi Islam dan rekan-rekan kerjanya.
“Kami tidak meminta banyak. Seluruh industri ini dibangun di belakang kita – hal yang paling tidak layak kita dapatkan adalah upaya minimal untuk bertahan hidup,” imbuh dia.
Karena aksi protes ini, sekitar 150 pabrik yang tersebar di Ashulia dan Gazipur telah tutup, karena para produsen khawatir akan terjadi lebih banyak pemogokan dan penjarahan pabrik.
Sementara itu, sudah sejak lama Bangladesh dikenal sebagai produsen fast fashion terbesar di dunia. Sekitar 85% atau setara Rp863 triliun ekspor tahunan Bangladesh berasal dari industri garmen.
Tercatat ada sekitar 4000 pabrik garmen di Bangladesh, dengan kebanyakan buruh terdiri atas buruh perempuan, yang gaji bulanannya hanya di kisaran 8.300 taka (Rp1,17 juta). Beberapa pabrik garmen bahkan juga mempekerjakan anak.
Menurut The Guardian, meski tidak memiliki pabrik di Bangladesh, aksi protes ini dinilai dapat memengaruhi kinerja jenama fesyen dunia, seperti Levi's, Zara, dan H&M.
Bagaimana tidak, dengan ketersediaan buruh melimpah, upah tenaga kerja di negara yang terletak di Asia Selatan ini sangat murah, bahkan menjadi yang termurah di dunia.
Kini, setidaknya ada 18 jenama fesyen dunia yang bekerjasama dengan pabrik-pabrik garmen lokal untuk memasok barang, hingga memenuhi kebutuhan tenaga kerja mereka. Untuk menghindari kerugian mendalam, merek-merek fesyen global itu meminta perdana menteri agar negosiasi upah buruh bisa diselesaikan secepatnya.
Konten ini adalah kiriman dari Z Creators Indozone.Yuk bikin cerita dan konten serumu serta dapatkan berbagai reward menarik! Let's join Z Creators dengan klik di sini.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: The Guardian