Ilustrasi secure attachment (freepik).
INDOZONE.ID - Dalam sebuah hubungan, banyak orang mendambakan rasa aman, komunikasi yang jujur, dan kepercayaan tanpa drama berlebihan.
Hubungan seperti ini membuat dua orang merasa dihargai, didukung, sekaligus tetap bebas berkembang sebagai individu.
Dalam dunia psikologi, kondisi tersebut dikenal sebagai secure attachment style atau gaya keterikatan yang aman.
Pola hubungan ini sering dianggap sebagai salah satu fondasi paling kuat untuk membangun relasi yang sehat dan stabil.
Baca juga: 5 Tren Olahraga yang Lagi Hits dan Bikin Banyak Orang Ketagihan Bergerak
Menariknya, meskipun pola keterikatan seseorang sering terbentuk sejak masa kecil, bukan berarti gaya hubungan yang lebih sehat tidak bisa dipelajari.
Faktanya, banyak orang berhasil membangun secure attachment saat dewasa melalui kesadaran diri dan pengalaman hubungan yang lebih sehat.
Istilah secure attachment berasal dari Attachment Theory, sebuah teori psikologi yang dikembangkan oleh John Bowlby dan Mary Ainsworth.
Teori ini menjelaskan bahwa cara seseorang menjalin kedekatan emosional dengan orang lain sering kali terbentuk sejak masa kanak-kanak, terutama dari hubungan dengan orang tua atau pengasuh.
Secara umum, gaya keterikatan dibagi menjadi dua kategori besar: secure attachment (aman) dan insecure attachment (tidak aman).
Baca juga: Pria Ini Rela Terbang Naik Pesawat pada Tahun 2016 Hanya demi Menyaksikan Gerhana Matahari Total
Orang yang memiliki secure attachment biasanya lebih mudah membangun hubungan yang stabil.
Mereka merasa nyaman dengan kedekatan emosional, mampu mempercayai pasangan, serta terbiasa menjaga komunikasi yang sehat dalam hubungan.
Ada beberapa ciri yang biasanya terlihat pada seseorang dengan gaya keterikatan yang aman.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Positivepsychology.com