Ilustrasi BAB Anak Ada Darahnya. (Eliani Kusnedi)
INDOZONE.ID - Melihat buang air besar (BAB) anak ada darahnya pasti membuat banyak orang tua langsung panik.
Namun sebenarnya, nggak semua BAB berdarah pada anak itu berarti kondisi yang serius, kok. Ada beberapa kasus yang tergolong ringan dan bisa membaik sendiri.
Meski begitu, tetap penting bagi orang tua tahu mana kondisi yang masih aman dan kapan harus segera ke dokter.
BAB berdarah adalah kondisi ketika ada darah yang terlihat di feses anak. Jumlahnya bisa sedikit, hanya seperti garis merah di permukaan feses, atau bisa juga lebih banyak.
Baca juga: 7 Cara Berhenti Makan Mi Instan untuk Kamu yang Sudah Terlanjur Kecanduan!
Warna darahnya juga bisa beda-beda, ada yang merah cerah dan ada juga yang terlihat lebih gelap atau kehitaman.
Tampilan ini sebenarnya bisa memberi gambaran awal soal kemungkinan penyebabnya. Misalnya, feses yang tampak kemerahan kadang bukan karena perdarahan, tapi karena makanan tertentu seperti buah naga atau bit.
Nah, sebelum langsung khawatir, penting bagi orang tua melihat dulu warna, jumlah darah, dan kondisi anak secara keseluruhan.
BAB berdarah pada anak nggak selalu berbahaya, karena dalam beberapa kasus hal ini bisa terjadi karena iritasi ringan, misalnya akibat sembelit.
Ciri-ciri BAB berdarah yang biasanya masih tergolong ringan:
Baca juga: Rahasia Sarapan Murah dengan 2 Butir Telur Rebus yang Punya Manfaat Luar Biasa
Tapi orang tua perlu lebih waspada jika muncul tanda, seperti:
Jika tanda-tanda ini muncul, sebaiknya segera konsultasi ke dokter agar penyebabnya bisa diketahui dengan jelas.
Berikut beberapa penyebab yang paling sering terjadi.
Fisura ani adalah robekan kecil di sekitar anus, dan ini termasuk penyebab BAB berdarah yang paling sering terjadi pada anak.
Biasanya kondisi ini muncul karena feses terlalu keras atau anak mengejan terlalu kuat saat BAB.
Meski terlihat menakutkan, kondisi ini umumnya nggak berbahaya dan bisa membaik dalam beberapa hari dengan perawatan yang tepat.
Pada beberapa anak, alergi makanan bisa memicu peradangan di usus besar sehingga menyebabkan munculnya darah di feses.
Baca juga: Peluang Sembuh Kanker Ginjal pada Anak Bisa Capai 90 Persen, Ini Caranya!
Beberapa makanan yang cukup sering memicu alergi pada anak antara lain:
Biasanya alergi makanan juga disertai gejala lain seperti ruam kulit, muntah, diare, perut kembung, gatal, hingga biduran.
Alergi terhadap protein susu sapi juga bisa menyebabkan peradangan pada usus, yang akhirnya membuat feses bayi atau anak terlihat bercampur sedikit darah.
Pada alergi protein susu, biasanya muncul juga gejala lain seperti bayi lebih rewel, kolik, muntah, atau diare.
BAB berdarah juga bisa terjadi karena infeksi bakteri, seperti E. coli atau Salmonella.
Biasanya kondisi ini disertai gejala lain seperti:
Bakteri dari kotoran anak yang terinfeksi juga bisa menular ke orang lain, terutama jika kebersihan kurang terjaga.
Jika darah pada feses muncul terus-menerus atau jumlahnya cukup banyak, kondisi ini bisa menjadi tanda adanya gangguan pada saluran pencernaan.
Beberapa kondisi yang bisa berkaitan antara lain radang usus (kolitis) atau intususepsi, yaitu ketika satu bagian usus masuk ke bagian usus lainnya. Kasus seperti ini tergolong lebih jarang, tapi tetap perlu diwaspadai.
Baca juga: 5 Manfaat Ubi Jalar untuk Ibu Hamil dan Cara Mengolahnya, Baik untuk Perkembangan Janin!
Polip adalah benjolan kecil yang tumbuh di usus. Meski lebih sering terjadi pada orang dewasa, kondisi ini juga bisa muncul pada anak.
Jenis yang paling sering ditemukan adalah polip juvenil, yang biasanya muncul sebelum anak berusia 10 tahun, terutama di rentang usia 2–6 tahun.
Ternyata ambeien juga bisa terjadi pada anak, meski memang tidak sesering pada orang dewasa.
Kondisi ini biasanya berkaitan dengan sembelit yang membuat anak harus mengejan terlalu keras saat BAB.
Ada beberapa hal yang bisa dilakukan orang tua.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Bebeclub