Ilustrasi berdoa. (Eliani Kusnedi)
INDOZONE.ID - Pernahkah Anda merasa terombang-ambing oleh badai ujian kehidupan dan mencari pegangan spiritual yang kokoh untuk kembali bangkit? Dalam tradisi Islam, untaian doa dan dzikir bukan sekadar pelipur lara, melainkan senjata utama seorang mukmin untuk menghadapi berbagai tantangan. Salah satu amalan agung yang telah diwariskan oleh para ulama dan terbukti menjadi peneduh jiwa di saat krisis adalah sholawat munjiyat.
Sebagai salah satu bentuk penghormatan kepada Nabi Muhammad SAW, sholawat ini menyimpan sejarah magis dan kedalaman makna yang luar biasa. Artikel ini akan mengupas bacaan sholawat munjiyat, waktu terbaik untuk mengamalkannya, hingga kaitan spiritualnya dengan tujuh surat penyelamat dalam Al-Quran.
Baca juga: Bacaan Sholawat Nariyah Arab, Latin, Arti, dan Manfaatnya
Secara fundamental, bersholawat kepada Nabi Muhammad SAW adalah perintah langsung dari Allah SWT. Hal ini termaktub secara tegas dalam Al-Qur'an Surat Al-Ahzab ayat 56, di mana Allah dan para malaikat-Nya senantiasa bersholawat untuk Nabi, sehingga orang-orang beriman pun diwajibkan untuk mengucapkan sholawat dan salam penghormatan kepada beliau.
Terdapat banyak sekali sighat atau ragam bacaan sholawat, dan salah satu yang paling masyhur di kalangan umat Islam adalah sholawat munjiyat. Bagaimanakah bunyi shalawat yang benar? Berikut adalah teks lengkapnya yang bisa Anda amalkan sehari-hari:
Tulisan Arab:
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلاَةً تُنْجِيْنَا بِهَا مِنْ جَمِيْعِ الْأَهْوَالِ وَالْاٰفَاتِ وَتَقْضِيْ لَنَا بِهَا جَمِيعَ الْحَاجَاتِ وَتُطَهِّرُنَا بِهَا مِنْ جَمِيْعِ السَيِّئَاتِ وَتَرْفَعُنَا بِهَا عِنْدَكَ أَعْلَى الدَّرَجَاتِ وَتُبَلِّغُنَا بِهَـــا أَقْصَى الْغَايَاتِ مِنْ جَمِيْعِ الْخَيْرَاتِ فِى الْحَيَاةِ وَبَعْدَ الْمَمَـــاتِ
Bacaan Latin:
Allâhumma shalli ‘alâ Sayyidinâ Muhammadin wa ‘alâ âli Sayyidinâ Muhammadin shalâtan tunjînâ bihâ min jamî’il ahwâli wal âfât wa taqdhî lanâ bihâ jamî’al hâjat wa tuthahhirunâ bihâ min jamî’is sayyiât wa tarfa’unâ bihâ ‘indaka a’lad darajât wa tuballighunâ bihâ aqshal ghâyat min jamî’il khairâti fil hayâti wa ba’dal mamât.
Artinya:
"Ya Allah limpahkanlah rahmat kepada junjungan kami Nabi Muhammad, yang dengan shalawat itu, Engkau akan menyelamatkan kami dari semua keadaan yang menakutkan dan dari semua cobaan; dengan shalawat itu, Engkau akan mengabulkan hajat kami; dengan shalawat itu, Engkau akan menyucikan kami dari segala keburukan; dengan shalawat itu, Engkau akan mengangkat kami ke derajat paling tinggi; dengan shalawat itu pula, Engkau akan menyampaikan kami kepada tujuan yang paling sempurna dalam semua kebaikan, ketika hidup dan setelah mati."
Kata "Munjiyat" secara harfiah memiliki arti "Penyelamat". Penamaan ini tidak lahir dari ruang hampa, melainkan bermula dari sebuah peristiwa bersejarah dan penuh hikmah yang dialami oleh seorang tokoh arif dari kalangan sufi.
Merujuk pada catatan Syekh Umar bin ‘Ali bin Salim al-Fakihani dalam kitab Al-Fajr al-Munir fi as-Shalat ala al-Basyir wa an-Nadzir, sejarah sholawat ini bersumber dari pengalaman spiritual seorang pemuka tarekat Syadziliyah bernama Syekh As-Shalih Musa ad-Dharir.
Pada suatu ketika, beliau sedang melakukan perjalanan laut menggunakan perahu. Tiba-tiba, sebuah badai dahsyat yang dikenal dengan sebutan badai Aqlabiyah menerjang. Badai ini sangat ditakuti karena hampir tidak ada penumpang kapal yang bisa selamat dari gulungannya.
Di tengah kepanikan dan jeritan para penumpang yang ketakutan, Syekh Musa ad-Dharir diserang rasa kantuk yang luar biasa hingga tertidur. Dalam tidurnya, beliau bermimpi didatangi oleh Rasulullah SAW. Nabi memberikan petunjuk agar beliau dan seluruh penumpang perahu mengucapkan sebuah doa sholawat sebanyak seribu kali.
Sholawat itulah yang kini kita kenal sebagai sholawat munjiyat. Syekh Musa kemudian terbangun dan menceritakan mimpi tersebut kepada seluruh penumpang. Mereka pun serentak membaca sholawat munjiyat bersama-sama. Menakjubkannya, baru sekitar tiga ratus kali bacaan dilantunkan, badai yang mengamuk tiba-tiba mereda dan lautan kembali tenang atas izin Allah SWT.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Berbagai Sumber