Ilustrasi tanda bahaya dalam hubungan. (freepik)
INDOZONE.ID - Dalam hubungan, kata “mengalah” memang sering dianggap bukti cinta. Mulai dari hal receh seperti nurutin pilihan tempat makan, sampai hal besar seperti pindah kota demi pasangan — semua itu bisa terasa romantis di awal.
Tapi ada satu hal yang sering tidak disadari: kalau hanya kamu yang terus berkorban, hubungan itu bisa berubah jadi tidak sehat tanpa kamu sadari.
Perlu dipahami dulu, hubungan yang sehat memang butuh kompromi. Kadang kamu yang ngikut, kadang pasangan yang menyesuaikan. Itu normal.
Baca juga: Mengenal Kesenian Tradisional Badud Pangandaran, Warisan Mistis yang Tetap Hidup
Masalahnya muncul ketika pola ini jadi berat sebelah:
Awalnya mungkin kamu pikir, “Gapapa, aku sayang dia.” — tapi lama-lama, ini bisa jadi kebiasaan yang melelahkan secara emosional.
Baca juga: Hubungan Kamu Tidak Baik-Baik Saja? Satu Cara Simpel Ini Bisa Selamatkan Hubunganmu
Kalau kamu terus jadi pihak yang mengalah, ada risiko besar yang sering tidak disadari: munculnya rasa tidak dihargai.
Bukan marah yang meledak-ledak — tapi lebih ke rasa capek yang dipendam, kecewa yang nggak diungkap dan perasaan “kok aku doang yang usaha?”.
Dan inilah yang disebut resentment — rasa kesal yang menumpuk pelan-pelan tapi bisa merusak hubungan dari dalam.
Baca juga: Salah Pakai Baju Karena Mati Lampu, Bapak ini Jadi Perhatian Saat Salat Berjamaah di Masjid
Relationship yang sehat itu bukan lomba siapa paling “tahan sakit” atau paling sering mengalah. Tapi tentang dua orang yang saling mendengar, saling menyesuaikan dan saling menghargai keputusan satu sama lain.
Kalau cuma satu pihak yang terus berkorban, lama-lama hubungan bukan lagi tentang “kita”, tapi cuma tentang “dia”.
Coba jujur ke diri sendiri. Apakah kamu mulai merasa: kamu selalu yang mengalah, pendapatmu jarang benar-benar dipertimbangkan, kamu lebih sering menuruti daripada didengarkan dan kamu capek tapi tetap bertahan tanpa perubahan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Healthline