Ilustrasi Kota Malang. (freepik)
INDOZONE.ID - Jadi mahasiswa baru alias maba di Malang itu vibes-nya emang juara banget. Udara sejuk, biaya hidup murah meriah, kafe estetik buat nugas bikin betah lama-lama merantau.
Apalagi buat kamu yang kuliah di sekitaran Brawijaya atau UM, rasanya tiap sudut kota cocok banget buat diabadikan jadi mini vlog estetik harian.
Tapi, euforia itu kadang langsung buyar kena culture shock waktu pertama kali nongkrong bareng arek-arek lokal.
Niat hati mau sok asik gabung obrolan di warkop, eh malah plonga-plongo karena disapa pakai kata sandi yang bikin otak loading keras.
Baca juga: Sosok Josepha Alexandra, Siswi SMAN 1 Pontianak yang Buktikan Kebangkitan Generasi Muda yang Kritis
Selamat datang di Malang, kota dengan "Boso Walikan" yang siap bikin lidah dan telingamu senam! Biar nggak kelihatan culun-culun amat, yuk bedah kultur unik yang satu ini.
Sebelum kamu mikir Boso Walikan itu cuma tren bahasa gaul anak zaman now, kamu wajib tahu fakta keren ini. Boso Walikan dulunya adalah kode rahasia yang dipakai sama para pejuang Gerilya Rakyat Kota (GRK) Malang waktu zaman Agresi Militer Belanda, lho!
Tujuannya? Tentu aja buat bedain mana kawan seperjuangan dan mana mata-mata musuh. Jadi, kalau kamu sekarang bisa fasih ngomong Boso Walikan, itung-itung kamu ikut melestarikan jejak sejarah perjuangan arek-arek Ngalam. Keren banget, kan?
Nah, buat kamu anak rantau yang baru napak bumi Arema, wajib banget hafal starter pack ini biar obrolanmu makin nyambung:
Baca juga: Ini Rahasia Teknik Journaling yang Efeknya Nggak Main-Main, Rasakan Hanya dalam 5 Hari!
Satu aturan main yang maba wajib tahu: Boso Walikan itu punya "estetika" pengucapannya sendiri. Nggak semua kata di KBBI bisa seenak jidat kamu balik dari belakang ke depan!
Baca juga: 100 Ide Bio Aplikasi Kencan Anti Cringe, Dijamin Bikin Swipe Kanan!
Misalnya, kata "Makan" itu jarang banget dibalik jadi "Nakam", atau "Minum" jadi "Munim". Boso Walikan biasanya cuma diterapin buat sapaan, kata ganti orang, atau beberapa kata slang biar pas diucapin rasanya tetap mengalir dan enak didengar. Kalau maksa semua dibalik, yang ada malah kayak orang kumur-kumur.
Skenario yang paling sering terjadi biasanya pas lagi nongkrong di warkop daerah Sudimoro. Tiba-tiba kating (kakak tingkat) atau temen yang asli Malang nyeletuk santai, "Sam, oyi nawak ayas kadit melu kuy." (Mas, iya temanku nggak ikut yuk).
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Amatan