INDOZONE.ID - Pernah nggak kamu melihat seseorang ramai-ramai dikritik di media sosial, lalu disebut kena cancel culture?
Di sisi lain, juga ada ada nih, gerakan publik yang mengajak orang berhenti membeli produk tertentu sebagai bentuk boikot.
Memang sekilas keduanya terlihat sama karena sama-sama bentuk protes, padahal kedua bentuk protes ini berbeda lho.
Lalu apa saja perbedaan cancel cultute dan boikot? berikut penjelasannya:
Apa Itu Cancel Culture?
Cancel culture adalah fenomena ketika publik ramai-ramai menarik dukungan, mengecam, atau mengucilkan seseorang karena dianggap melakukan tindakan yang tidak pantas, menyinggung, atau bertentangan dengan nilai sosial tertentu.
Biasanya, hal ini terjadi di ruang digital dan cepat menyebar lewat media sosial.
Bentuk cancel culture bisa bermacam-macam, mulai dari komentar negatif, seruan untuk berhenti mendukung, kampanye pemutusan kerja sama, hingga tekanan kepada brand atau pihak tertentu agar tidak lagi melibatkan orang tersebut.
Oleh karena itu, dampaknya tidak hanya terasa secara sosial, tetapi juga bisa memengaruhi reputasi dan karier seseorang.
Secara umum, cancel culture lebih berfokus pada individu, seperti artis, influencer, tokoh publik, atau figur yang punya pengaruh.
Apa Itu Boikot?
Berbeda dari cancel culture, boikot lebih sering menyasar entitas yang lebih besar, seperti perusahaan, brand, lembaga, bahkan negara.
Bentuk protesnya pun berbeda, biasanya dilakukan dengan berbagai cara seperti berhenti membeli produk, tidak memakai layanan tertentu, atau menolak mendukung pihak yang dianggap bermasalah.
Baca juga: Inilah 7 Produk Kecantikan Buatan Israel di Indonesia, Harus Masuk Daftar Boikot!
Boikot jug punya tekanan yang lebih terukur karena berkaitan langsung dengan dampak ekonomi.
Hal ini dikarenakan ketika banyak orang berhenti membeli suatu produk, perusahaan bisa kehilangan pendapatan, reputasi, dan kepercayaan konsumen.
Dari situlah publik berharap ada perubahan sikap, kebijakan, atau keputusan dari pihak yang diboikot. Oleh karena itu, boikot bukan sekadar aksi ikut-ikutan berhenti beli.
Gerakan ini biasanya punya tuntutan yang lebih jelas, misalnya meminta perusahaan menghentikan praktik tertentu, mengubah kebijakan, atau mengambil posisi yang dianggap lebih bertanggung jawab secara sosial.
Perbedaannya Ada pada Target dan Tujuan
Batas paling mudah untuk membedakan cancel culture dan boikot adalah melihat siapa yang menjadi targetnya.
Jika yang disasar adalah individu dan tekanannya berupa pengucilan sosial, itu lebih dekat dengan cancel culture.
Namun, jika yang disasar adalah perusahaan, produk, lembaga, atau negara dengan tekanan ekonomi, itu lebih tepat disebut boikot.
Baca juga: Cancel Culture Tren di Masyarakat, Apa Artinya dan Bagaimana Dampaknya?
Tujuan antara keduapun berbeda. Cancel culture lebih fokus pada konsekuensi sosial terhadap seseorang yang dianggap bermasalah.
Sementara itu, boikot bertujuan menekan pihak tertentu secara ekonomi agar muncul perubahan kebijakan atau sikap.
Meski begitu, keduanya bisa saling bersinggungan. Misalnya, seorang figur publik dikritik karena skandal tertentu, lalu brand yang bekerja sama dengannya ikut ditekan publik.
Dalam situasi seperti ini, cancel culture bisa melebar menjadi aksi boikot jika tekanan mulai diarahkan ke perusahaan atau produk.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Jurnal Revisiting Cancel Culture Karya Ryan S. C. Wong, University Of California