INDOZONE.ID - Memiliki kekayaan melimpah hingga Majalah Forbes mendapuknya sebagai salah satu orang terkaya di Indonesia tak membuat Dato Sri Tahir lantas bersikap jemawa.
Sebaliknya, sosoknya dikenal sebagai orang yang tetap sederhana dan dermawan. Tak ayal ia kerap disebut sebagai sosok pengusaha sekaligus filantropis.
Tak ada yang berubah dalam hidupnya sejak masa kecil mulai merintis usaha hingga kini mengelola bisnis bernilai triliunan.
Bahkan, Tahir merasa terganggu jika dirinya disebut sebagai konglomerat dan juga sosok filantropis.
"Saya paling sensitif disebut konglomerat, disebut filantropik. Karena dua nama ini bagi saya tidak ada positifnya. Kenapa? Apa arti konglomerat? Artinya konglomerat itu ya orang yang sukses, yang kaya, which I'm not," katanya dalam sebuah video yang diunggah akun YouTube Anthony Sudarsono.
Ia pun tidak menganggap dirinya seorang filantropis.
"Saya hanya mengerjakan hal yang baik aja ya, baik untuk banyak orang. Jadi itu aja yang saya kerjakan," lanjut Tahir.
Baca Juga: Satria Arta Kumbara, Mantan Marinir TNI AL yang Kini Jadi Militer Rusia Lawan Ukraina
Bagi pria yang pernah bercita-cita jadi dokter itu, dalam hidupnya tak ada capaian yang perlu dibesar-besarkan. Ia menganggap semua manusia sama.
Masing-masing menjalankan kewajiban sebagaimana apa yang dititahkan dalam tuntunan agama. Tahir menanamkan dalam dirinya untuk selalu menjadi orang yang berguna dan suka membantu banyak orang.
Hal ini merupakan salah satu ajaran orang tua yang selalu dipegangnya.
"Atas dasar-dasar pertimbangan itu saya kerjakan sampai hari ini, gitu. Jadi, tidak ada sesuatu yang istimewa," ucapnya.
Kekayaan, bagi Tahir bukan segalanya. Kekayaan juga tidak serta merta mengubah perilaku dan keseharian Tahir.
Ia mengaku bahwa tak ada yang berubah dalam hidupnya, baik saat masih serba kekurangan hingga saat mencapai posisi penuh kelimpahan.
"Jangan karena sesuatu masukan uang, Anda merubah. Anda punya habitat. saya tidak berubah habitat, saya tetap orang tidak mampu. Jadi menurut saya susah untuk membedakan posisi dari posisi kemarin,” ujar Tahir yang juga sebagai orang asia pertama yang menjadi Wali Amanat di University of California Berkeley, AS.
Tujuan hidup, lanjut dia, bukan mengejar kekayaan atau ambisi untuk dikenal banyak orang. Baginya bekerja adalah kewajiban dan lebih dari itu, bekerja adalah tanggung jawab sebagai kepala keluarga.
"Saya kejar masukan supaya saya bisa membesarkan anak, saya bisa merawat keluarga saya. Jadi saya kira saya simpel aja, sebuah tanggung jawab sebagai kepala keluarga, sebagai suami seorang istri, sebagai ayah dari seorang anak itu memang kewajiban saya," ia menambahkan.
Baca Juga: Memasuki Usia 73 Ini Hal yang Dikejar Pak Tahir sebagai Orang Terkaya di Indonesia
Pencapaian yang diraihnya sekarang tidak lepas dari perilaku disiplin yang dibangun sejak dulu. Tahir mengaku selalu bangun pukul 5 pagi dan langsung pulang ke rumah ketika jam pulang.
Dalam keseharian, Tahir tidak pernah keluar rumah untuk sekadar nongkrong apalagi pamer kekayaan di media sosial.
“Saya bukan disiplin. Saya super disiplin. Jam 5.30 sudah bangun. Oh. 7.30 sudah ke kantor. Saya malam enggak hangout. Saya jam 4 pulang rumah," tandasnya.
Waktu bagi Tahir sangat berharga. Karena tidak punya kesempatan di pagi hari, ia selalu menyempatkan untuk makan malam bersama keluarga di rumah.
"Kesempatan itu saya manfaatkan untuk saya bisa makan bersama sama istri saya, karena saya pagi ke kantor kan enggak sempat makan pagi sama istri," tuturnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: YouTube Anthony Sudarsono