Ilustrasi kulit kusam (Pixabay/Pana Kutlumpasis)
INDOZONE.ID - Overthinking sering dianggap cuma masalah pikiran. Padahal, kebiasaan memikirkan sesuatu secara berlebihan bisa berdampak jauh lebih besar termasuk pada kondisi kulit. Tanpa disadari, kulit bisa jadi korban utama dari stres mental yang terus menumpuk.
Di era serba cepat seperti sekarang, overthinking jadi “penyakit” yang banyak dialami anak muda hingga dewasa. Mulai dari memikirkan pekerjaan, hubungan, keuangan, sampai hal-hal kecil yang seharusnya sudah berlalu. Ketika pikiran tidak pernah benar-benar istirahat, tubuh pun ikut merasakan dampaknya.
Menurut Dr. Roberta Del Campo, dokter kulit bersertifikat, otak dan kulit terhubung langsung melalui sistem saraf dan hormon. Saat seseorang terus-menerus overthinking, tubuh akan berada dalam mode stres berkepanjangan dan memproduksi hormon kortisol secara berlebihan.
Masalahnya, kortisol bukan hormon yang ramah untuk kulit. Lonjakan hormon ini bisa memicu peradangan, memperlambat regenerasi sel kulit, dan melemahkan skin barrier. Akibatnya, kulit jadi lebih mudah iritasi, terlihat kusam, dan kehilangan elastisitasnya lebih cepat.
Baca juga: Tips Perawatan untuk Kulit Wajah Kusam dan Berminyak Supaya Terlihat Segar, Sehat, Terawat
Overthinking sering membuat seseorang sulit tidur atau kualitas tidurnya menurun. Padahal, saat tidur adalah waktu emas bagi kulit untuk memperbaiki diri. Ketika waktu istirahat terganggu, proses regenerasi sel ikut melambat.
Selain itu, stres mental akibat overthinking juga menghambat aliran darah ke kulit. Alhasil, oksigen dan nutrisi yang seharusnya membuat wajah tampak segar jadi berkurang. Inilah alasan kenapa orang yang sering stres terlihat lebih pucat, lelah, dan kehilangan glow alaminya.
Ilustrasi gejala penuaan dini. (earth.com)
Bukan cuma bikin kusam, overthinking juga berpotensi mempercepat tanda-tanda penuaan. Produksi kolagen dan elastin bisa menurun akibat stres berkepanjangan. Dampaknya, garis halus muncul lebih cepat, kulit kehilangan kekenyalan, dan kerutan jadi makin terlihat.
Belum lagi kebiasaan ekspresi wajah saat stres seperti mengernyitkan dahi atau menegangkan rahang, yang jika terjadi terus-menerus bisa meninggalkan garis permanen di wajah.
Perawatan kulit tetap penting, tapi tidak cukup jika pikiran terus kacau. Membersihkan wajah secara rutin, memakai pelembap, sunscreen minimal SPF 30, serta antioksidan seperti vitamin C dan vitamin A bisa membantu melindungi kulit dari kerusakan akibat stres.
Namun, kunci utamanya ada di pengelolaan pikiran. Coba mulai dengan hal sederhana: batasi waktu scrolling, tarik napas dalam beberapa menit, atau tulis semua pikiran yang mengganggu sebelum tidur. Aktivitas seperti yoga ringan, meditasi singkat, dan olahraga teratur juga terbukti membantu menurunkan kadar kortisol dalam tubuh.
Luangkan waktu setiap hari untuk berhenti sejenak dari overthinking. Merawat kulit bukan hanya soal skincare mahal, tapi juga memberi ruang bagi pikiran untuk tenang. Saat pikiran lebih rileks, kulit pun ikut “bernapas” lebih sehat, lebih cerah, dan tampak lebih muda.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Skinlaundry.com