Selasa, 26 AGUSTUS 2025 • 17:00 WIB

Deretan Brand Fast Fashion dan Dampak Buruknya bagi Lingkungan

Author

Ilustrasi fashion. (Freepik)

INDOZONE.ID - Belakangan ini sering sekali kita mendengar istilah Fast Fashion. Lalu, apa sih yang dimaksud dengan istilah Fast Fashion itu? Mengapa brand-brand tersebut dinamakan sebagai Fast Fashion? Dan apa saja dampak yang mereka berikan kepada alam serta lingkungan kita? Yuk, kita bahas.

Istilah Fast Fashion sendiri adalah penggambaran untuk fashion atau gaya yang cepat mengalami perubahan, dengan waktu produksi cukup singkat, serta biaya yang relatif murah. Lalu, apa saja brand-brand yang termasuk ke dalam kategori Fast Fashion? Dan dampak apa saja yang ditimbulkan oleh brand-brand tersebut? Mari kita bahas satu per satu.

1. Zara

Toko Zara. (Rodrigo Garrido)

Mungkin brand ini sudah tidak asing lagi bagi kita. Salah satu brand fashion asal Spanyol yang didirikan pada tahun 1975 oleh Amancio Ortega dan Rosalia Mera ini pada awalnya memulai dengan menjual produk-produk pakaian dan aksesori di pasar lokal. Kini, Zara dikenal sebagai salah satu brand terbesar di dunia karena memiliki 2.200 gerai di 96 negara, termasuk Indonesia.

Zara disebut sebagai salah satu brand Fast Fashion karena dapat memproduksi sebanyak 450 juta potong pakaian per tahunnya, dengan sekitar 40.000 rancangan, di mana 12.000 di antaranya dipilih dan diproduksi hanya dalam waktu sekitar 10–15 hari.

2. H&M

Branda Fashion H&M (sumber: Pinterest)

Berikutnya ada brand asal Swedia yang didirikan sejak 1947 oleh Erling Persson, yaitu H&M. Awalnya, H&M adalah brand fashion yang khusus menjual produk perempuan di tokonya yang bernama Hennes. Lalu, pada tahun 1960, Persson membeli sebuah toko pakaian pria bernama Mauritz. Dari sinilah terbentuk brand H&M, yang merupakan gabungan dari dua nama toko tersebut.

Pada tahun 1970, Persson memperluas bisnisnya ke Amerika Utara dengan membuka toko di Amerika Serikat. Kini, H&M memiliki kurang lebih 5.000 toko di seluruh dunia. Koleksinya pun berkembang, bukan hanya untuk pria dan wanita, tetapi juga untuk anak-anak, dengan menawarkan koleksi terbaru secara konsisten.

Baca juga: Ledakan Tren Sepatu Ramah Lingkungan, Fashion dengan Dampak Positif

3. Shein

Brand Fashion Shein (sumber: Pinterest)

Di urutan ketiga ada brand asal Tiongkok yang didirikan oleh Chris Xu di Nanjing pada tahun 2008. Awalnya, brand ini bernama ZZKKO sebelum berganti nama menjadi Shein pada tahun 2015 dengan fokus penjualan fashion wanita dan gaun pengantin secara online.

Pada 2021, Shein bahkan tercatat mampu mengalahkan Amazon sebagai aplikasi paling banyak diunduh di Amerika Serikat. Shein disebut sebagai salah satu brand Fast Fashion karena mampu memproduksi kurang lebih 6.000 item baru per hari. Artinya, dalam satu tahun Shein mampu menghasilkan sekitar 18 juta item siap jual.

4. Uniqlo

pelanggan Uniqlo di Rusia antri memasuki toko sebelum ditutup. (REUTERS/Maxim Shemetov)

Brand asal Jepang yang didirikan oleh Tadashi Yanai pada tahun 1984 ini awalnya bernama Unique Clothing Warehouse, sebelum berganti menjadi Uniqlo. Brand ini berkembang pesat di Jepang karena kualitas dan desainnya yang sederhana, namun fungsional.

Tak lama kemudian, Uniqlo memperluas bisnisnya ke pasar global. Toko pertama di luar Jepang dibuka di London pada 2001, disusul Amerika Serikat pada 2005, hingga akhirnya masuk ke Indonesia pada 2012.

Dengan konsep Lifewear yang menekankan kenyamanan dan kesederhanaan, Uniqlo kini telah membuka lebih dari 2.200 toko di seluruh dunia. Banyaknya gerai ini membuat permintaan produk meningkat, sehingga angka produksinya pun semakin tinggi untuk menyesuaikan pasar.

5. Forever 21

Brand Fashion Forever 21 (sumber: Pinterest)

Di posisi kelima ada Forever 21. Brand yang didirikan Do Won Chang dan Jin Sook Chang pada 1984 di Los Angeles ini awalnya hanya berupa toko pakaian kecil bernama Fashion 21 di Highland Park. Pada 1987, toko ini berganti nama menjadi Forever 21 dan mulai menawarkan pakaian fashion terkini dengan harga terjangkau.

Pada 1990-an, Forever 21 berkembang pesat di Amerika Serikat. Keberhasilan ini membuat sang pemilik memperluas jaringan toko ke seluruh negeri. Pada 2000-an, Forever 21 mulai go internasional dengan membuka gerai di Asia, Eropa, dan Amerika Latin. Kini tercatat ada lebih dari 800 toko di seluruh dunia. Brand ini pun dikenal sebagai salah satu Fast Fashion yang digemari remaja.

Baca juga: Fashionable tapi Berbahaya: Jejak Limbah di Balik Tren Pakaian

Dari kelima brand di atas, semakin banyaknya toko yang dibuka di pasar global otomatis membuat permintaan produk baru, baik dari segi model maupun tren, semakin tinggi. Namun, dampak negatif dari brand-brand Fast Fashion ini cukup membahayakan, bukan hanya terhadap alam dan lingkungan, tetapi juga terkait isu HAM dan eksploitasi anak serta pekerja. Salah satu contohnya adalah Shein.

Brand ini diduga memberikan dampak negatif terhadap lingkungan, di antaranya:

  • Emisi karbon yang tinggi
  • Pencemaran air
  • Limbah tekstil
  • Penggunaan bahan baku berbahaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Wikipedia

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU