Kamis, 30 OKTOBER 2025 • 13:31 WIB

Thrift vs Fast Fashion: Kenapa Gen Z Lebih Milih Baju Bekas?

Author

Ilustrasi thrifting (Instagram/cgrsecondstuff)

INDOZONE.ID - Coba jalan-jalan ke pusat perbelanjaan, lalu bandingkan dengan toko-toko thrift yang lagi ramai di sudut kota. 

Bedanya langsung kerasa banget. Di satu sisi, fast fashion terus gencar menawarkan baju baru tiap minggu dengan harga miring. 

Tapi di sisi lain, makin banyak anak muda—terutama Gen Z—yang justru lebih bangga pakai baju bekas. 

Aneh? Nggak juga. Sekarang, justru thrifting jadi simbol gaya hidup keren, sadar lingkungan, dan pastinya lebih unik.

Baca juga: 7 Ide Kostum Halloween 2025 untuk Pria yang Keren dan Elegan

Bukan Sekadar Baju Murah

Dulu, beli baju bekas mungkin identik dengan “ngirit”. Sekarang beda. 

Buat Gen Z, thrifting bukan cuma soal hemat, tapi juga cara buat tampil beda dan lebih bertanggung jawab sama bumi. 

Setiap potong baju di toko thrift punya cerita sendiri—bisa aja itu jaket yang udah keliling dunia, atau kaus vintage yang nggak bakal ada duanya.

Sementara itu, fast fashion malah makin sering dikritik. 

Produksi masal, bahan cepat rusak, dan limbah yang menumpuk bikin orang sadar, kalau gaya cepat ganti ternyata ada harganya—dan bukan cuma di dompet, tapi juga di lingkungan. 

Baca juga: 7 Ide Kostum Halloween 2025 yang Kekinian dan Seru

Makanya banyak anak muda sekarang yang mikir dua kali sebelum beli baju baru.

Jangan salah, media sosial punya andil besar di balik naiknya budaya thrift. 

Di TikTok, Instagram, dan Pinterest, banyak banget kreator yang pamer outfit of the day hasil berburu di toko bekas. 

Mereka nunjukin kalau baju bekas pun bisa tampil modis, bahkan kadang lebih keren dari yang dijual di mal.

Hashtag kayak #ThriftTok atau #ThriftHaul rame banget, jadi semacam gerakan bareng-bareng buat bangga tampil beda. 

Nggak jarang juga, ada yang mulai bisnis kecil dari sini—beli barang bekas, ubah dikit biar makin kece, lalu jual lagi. 

Baca juga: 7 Ide Kostum Halloween 2025 untuk Pasangan yang Bikin Kamu Jadi Sorotan

Istilahnya, thrift flipping. Kreatif banget, kan?

Unik, Personal, dan Lebih “Kamu Banget”

Salah satu alasan utama Gen Z cinta thrifting adalah karena mereka bisa dapet sesuatu yang nggak pasaran. 

Beda sama fast fashion yang satu model bisa dipakai jutaan orang, thrift store ngasih kesempatan buat nemuin barang yang “Kamu banget”.

Selain itu, banyak baju bekas yang kualitasnya malah lebih bagus dari barang baru harga murah. 

Zaman dulu bahan pakaian cenderung lebih kuat dan awet. 

Baca juga: 7 Ide Kostum Halloween 2025 untuk Anak yang Keren dan Gampang Dibuat

Jadi, selain tampil beda, Kamu juga dapet barang yang tahan lama. Win-win banget.

Dampak Positif Buat Lingkungan dan Komunitas

Setiap kali Kamu beli baju bekas, Kamu sebenarnya bantu mengurangi limbah tekstil yang menumpuk di TPA. 

Industri fashion sendiri dikenal sebagai salah satu penyumbang polusi terbesar di dunia. 

Produksi bahan sintetis kayak polyester bahkan bisa ngelepas mikroplastik ke laut. Ngeri, kan?

Tapi dengan thrifting, Kamu ikut memutar roda ekonomi sirkular—barang lama nggak langsung dibuang, tapi dipakai lagi. 

Baca juga: Jungkook BTS Tampil Menawan di Iklan Terbaru Calvin Klein, Pamer Gaya Biker Tahun 90-an

Selain itu, banyak toko thrift yang hasil penjualannya disalurkan buat kegiatan sosial, kayak pelatihan kerja atau bantuan buat masyarakat. 

Jadi, bukan cuma gaya yang keren, tapi juga berdampak positif buat orang lain.

Fast fashion sebenarnya punya daya tarik: murah dan cepat. Tapi di balik itu, ada banyak hal yang bikin orang mikir ulang. 

Produksi besar-besaran sering melibatkan tenaga kerja murah, polusi air, dan buangan bahan kimia. 

Dan karena modelnya cepat ganti, banyak orang jadi kebiasaan beli-buang-beli lagi.

Gen Z mulai sadar, pola konsumsi kayak gitu nggak sehat, baik buat lingkungan maupun buat diri sendiri. 

Baca juga: Bukan Cuma Nyaman, Ini Alasan Kenapa Tidur Pakai Daster Bikin Sehat dan Tenang

Akhirnya, mereka cari cara baru buat tetap gaya tanpa rasa bersalah—dan jawabannya: thrift.

Masa Depan Fashion Ada di Thrift Culture

Tren thrifting bukan cuma hype sementara. Sekarang, pasar barang bekas diprediksi terus tumbuh pesat dan bahkan bisa nyalip industri fast fashion. 

Karena selain ramah lingkungan, thrift culture juga seru banget. Ada rasa puas tersendiri waktu berhasil nemuin barang langka dengan harga miring.

Dan yang paling keren, thrifting udah jadi semacam gerakan komunitas. 

Orang-orang saling berbagi tips, saling tukar barang, bahkan kolaborasi bikin acara pop-up thrift bareng. 

Gaya hidup ini nggak cuma soal pakaian, tapi juga tentang kebersamaan dan kesadaran akan dampak dari setiap pilihan kita.

Baca juga: Penampilan Gigi dan Bella Hadid Pernikahan Sang Kakak, Kompak Kenakan Gaun Hijau Sage sambil Nyeker

Gen Z lagi nunjukin ke dunia bahwa gaya keren nggak harus mahal, dan tren nggak harus bikin bumi rusak. 

Dengan thrifting, mereka bisa tampil stylish, unik, dan tetap peduli sama lingkungan. 

Jadi, lain kali Kamu pengin cari outfit baru, mungkin saatnya coba mampir ke toko barang bekas. 

Siapa tahu, di sana Kamu nemuin potongan fashion yang bakal jadi favorit baru Kamu—dan bonusnya, Kamu juga bantu planet kita sedikit lebih baik.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Goodwillvirginia.com

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU