INDOZONE.ID - Kain tencel belakangan sedang populer di pasar fashion. Kain yang proses produksinya ramah lingkungan ini memanfaatkan limbah kulit jeruk.
Yap, kenyamanan outfit dilihat dari kualitas bahannya. Sekadar kain katun saja tak cukup, tapi kamu harus memperhatikan bahan dasar kainnya jika ingin lebih nyaman.
Banyak desainer maupun fashionpreuner mengandalkan kain tencel dalam menciptakan satu karya busana. Baik itu baju atasan, celana, outer, hingga hijab yang dipakai dengan nyaman menggunakan kain tencel.
Kain tencel pun disukai masyarakat karena dipakainya nyaman, lembut dan menyerap keringat. Lalu apa ya bedanya kain tencel dengan yang lain?
Senior Director of Global Marketing and Branding, Commercial Textiles Lenzing AG Eva McGeorge mengatakan, dalam proses produksinya kain tencel merangkul inovasi dan memberdayakan kolaborasi yang berfokus sebagai penggerak perubahan dalam industri tekstil guna menjaga masa depan dari bumi.
Dalam artian mengusung sustainable fashion yang manfaatnya positif dalam jangka panjang.
“Kami telah berupaya keras untuk menghadirkan serat tekstil yang inovatif dan berkelanjutan bagi dunia. Mulai dari tahap pengadaan bahan baku hingga pembuangan produk konsumen di akhir masa pakai,” ujarnya di Jakarta.
Baca Juga: Sprei dari Kain Serat Cocok untuk Kulit Sensitif Loh!
Pertumbuhan kain tencel saat ini tidak lepas dari kolaborasi para desainer dan pencinta fashion.
Mulanya kain tencel mengandalkan teknologi pewarnaan tanpa air pertama untuk serat selulosa berbasis kayu hingga alternatif bebas plastik pertama untuk kain elastis.
Hasilnya sangat indah dan ramah lingkungan. Sehingga kain lembut ini bisa sampai ke runway fashion show, red carpets, dan retailers.
Baca Juga: Usung Ramah Lingkungan, Kain Tencel Makin Booming di 2024
“Kami akan terus membangun kolaborasi yang lebih kuat dan mendedikasikan upaya kami dalam menciptakan masa depan fesyen yang dapat kita banggakan bersama,” tambahnya.
Sebagai inovasi, kini produsen mengusung tema baru dalam karyanya yaitu 'Nature. Future. Us', yang dapat enciptakan suara yang sangat inspiratif dan inklusif.
Eva dan tim juga telah bereksperimen dengan penggunaan bahan limbah. Seperti kulit jeruk dan limbah kapas dalam produksi serat.
“Di industri yang sangat menghargai transparansi, kami juga akan terus memperkuat kepercayaan dan kolaborasi untuk memperkuat dampak positif,” tutupnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan Langsung