INDOZONE.ID - Saat membuka media sosial dan melihat kabar duka cita, kita hampir pasti menemukan komentar bertuliskan "RIP" atau "R.I.P". Tiga huruf ini seolah menjadi kode universal untuk mengekspresikan kesedihan dan penghormatan terakhir bagi mereka yang telah berpulang. Namun, pernahkah Anda berhenti sejenak dan bertanya: sesungguhnya Rest in Peace artinya apa? Apakah ia sekadar singkatan bahasa Inggris, ataukah sebuah doa teologis dengan akar sejarah yang panjang?
Banyak orang menggunakan istilah ini secara refleks tanpa memahami konteks sejarah dan muatan maknanya. Padahal, frasa ini memiliki perjalanan panjang dari katakombe Romawi kuno hingga menjadi budaya pop modern. Artikel ini akan mengupas tuntas etimologi, sejarah, perdebatan teologis di baliknya, serta etika penggunaannya agar kita tidak salah kaprah dalam menyampaikan belasungkawa.
Secara harfiah dalam bahasa Inggris, Rest in Peace artinya adalah "Beristirahatlah dengan Tenang". Namun, untuk memahami kedalaman maknanya, kita harus menelusuri akar bahasanya dari bahasa Latin.
Istilah RIP merupakan singkatan dari frasa Latin: "Requiescat in Pace".
Jadi, secara gramatikal dan teologis, Rest in Peace artinya bukan sekadar pernyataan bahwa "dia sedang istirahat", melainkan sebuah doa atau permohonan: "Semoga dia beristirahat dalam damai."
Jika ditujukan untuk banyak orang, frasa Latinnya berubah menjadi Requiescant in Pace. Penggunaan frasa ini menyiratkan harapan agar jiwanya mendapatkan ketenangan di alam baka sembari menanti hari kebangkitan, terbebas dari siksa atau penderitaan duniawi.
Baca juga: 30 Ucapan Belasungkawa Islami dan Kristen yang Menyentuh Hati
Penggunaan frasa ini tidak muncul begitu saja. Sejarah mencatat transformasi panjang dari tradisi Yahudi hingga Kristen awal.
Sebelum Kristen berkembang, frasa yang umum ditemukan pada makam Yahudi di wilayah Bet She'arim (sekitar abad ke-1 SM) adalah shalom yang berarti "damai". Ungkapan seperti "biarkan dia masuk dalam kedamaian" (yavo b'shalom) sudah menjadi bagian dari doa kematian yang terekam dalam Kitab Yesaya 57:2.
Pada masa awal Kekristenan di Roma, orang-orang Kristen mulai mengadopsi konsep "tidur dalam damai" (dormit in pace). Hal ini ditemukan pada berbagai prasasti di katakombe (kuburan bawah tanah) Kristen abad ke-5. Penggunaan akronim R.I.P sendiri mulai populer dan ditemukan pada batu nisan Kristen sekitar abad ke-8 Masehi.
Pada abad ke-18, frasa Requiescat in Pace menjadi doa standar dalam liturgi pemakaman Gereja Katolik Roma, yang kemudian menyebar luas ke seluruh dunia Barat dan diadopsi ke dalam bahasa Inggris menjadi Rest in Peace.
Dalam teologi Kristen, kematian sering diibaratkan sebagai "tidur". Yesus sendiri dalam Alkitab menyebut kematian Lazarus sebagai "tidur" (Yohanes 11:11). Oleh karena itu, Rest in Peace artinya adalah doa agar tubuh yang meninggal "tidur" dengan tenang di dalam makam, sementara jiwanya berada dalam tangan Tuhan.
Dr. Joshua Scorgie, seorang teolog, dalam jurnalnya menyebutkan bahwa frasa ini menghubungkan dua dimensi: istirahatnya tubuh fisik di bumi dan kedamaian jiwa di hadapan Sang Pencipta. Bagi penganut Katolik, doa ini juga berkaitan dengan harapan agar jiwa yang berada di Api Penyucian (Purgatory) segera mendapatkan kedamaian abadi di Surga.
Ini adalah fakta menarik yang jarang diketahui. Meskipun populer, tidak semua denominasi Kristen sepakat dengan penggunaan istilah ini.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Oxford English Dictionary, Berbagai Sumber