Ilustrasi hubungan yang terancam hancur. (freepik)
INDOZONE.ID - Rusaknya kepercayaan sering menjadi titik awal kehancuran hubungan. Penyebabnya bisa beragam, mulai dari kebohongan kecil, janji yang terus diingkari, komunikasi yang tidak jujur, hingga pengkhianatan besar seperti perselingkuhan.
Dampaknya pun tidak main-main — hubungan bisa dipenuhi rasa curiga, pertengkaran berulang, dan kelelahan emosional bagi kedua pihak. Banyak pasangan tetap bertahan, tetapi justru merasa hubungan semakin berat karena luka lama belum benar-benar sembuh.
Tak sedikit orang berharap waktu bisa memperbaiki semuanya. Padahal, hubungan tidak akan membaik jika akar masalah terus dihindari.
Meski terasa sulit, hubungan yang retak tidak selalu harus berakhir dengan perpisahan.
Baca juga: Awas! LDR Berbiaya Tinggi Bisa Bikin Hubungan Kalian Kandas
Jika kedua pihak masih ingin memperbaiki keadaan, mencari bantuan profesional seperti terapis hubungan bisa menjadi langkah penting yang sering diabaikan, padahal dapat membantu proses pemulihan berjalan lebih sehat.
Ketika kepercayaan hancur, dampaknya bukan hanya pada hubungan itu sendiri tetapi juga kesehatan mental masing-masing pasangan.
Orang yang merasa dikhianati biasanya mengalami rasa marah, sedih, kecewa, sulit tidur, kehilangan rasa aman, bahkan overthinking berlebihan. Mereka bisa terus mempertanyakan apakah pasangan akan mengulang kesalahan yang sama.
Disisi lain, pasangan yang melakukan kesalahan juga bisa merasa bersalah, frustrasi, atau kebingungan menghadapi situasi yang semakin rumit.
Baca juga: Contoh Hutan Produksi di Indonesia dan Penjelasan Lengkapnya
Jika kondisi ini terus dibiarkan tanpa solusi yang jelas, hubungan bisa berubah menjadi tidak sehat dan penuh tekanan emosional.
Banyak pasangan mencoba menyelesaikan masalah besar sendiri karena merasa malu mencari bantuan dari luar. Ada juga yang takut dianggap gagal jika harus datang ke konselor hubungan.
Padahal, beberapa masalah memang membutuhkan bantuan pihak ketiga yang netral agar konflik tidak terus berulang. Ketika emosi sedang tinggi, pasangan sering kali sulit berdiskusi dengan tenang. Percakapan sederhana bisa berubah menjadi saling menyalahkan dan membuka luka lama.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Healthline