Founder Neo Historia Ungkap Fakta Dari Rumor Simpang Siur Soal Transparasi Dana yang Sempat Viral
INDOZONE.ID - Menanggapi artikel yang dimuat oleh Indozone beberapa waktu lalu berjudul “Viral Neo Historia Dirujak Netizen Karena Minta Donasi, Diduga Ada Kejanggalan”, pihak Neo Historia Indonesia melalui CEO-nya, Daniel Limantara, akhirnya menyampaikan hak jawab dan klarifikasi resmi kepada Indozone beberapa waktu lalu.
Klarifikasi ini disampaikan untuk memberikan sudut pandang yang lebih utuh atas polemik penggalangan dana yang sempat menjadi perbincangan publik.
Penggunaan Istilah “Donasi” Diakui Keliru
Dalam penjelasannya, Daniel mengakui bahwa penggunaan istilah “donasi” dalam penggalangan dana saat itu merupakan kesalahan.
Baca juga: Nasib Naskah Sumber Primer Kritis, Sejarah Kerajaan Demak Bintoro Terancam
"Ya, kami mngaui penggunaan diksi 'Donasi' itu keliru. Harusnya memang dukungan," kata Daniel.
Menurut pihak mereka, sebagai entitas berbadan hukum Perseroan Terbatas (PT), istilah yang lebih tepat seharusnya adalah “dukungan” atau “kontribusi”. Penggalangan dana tersebut dilakukan melalui platform Trakteer, yang pada dasarnya menyediakan akses konten eksklusif bagi para pendukung.
Dengan demikian, Neo Historia menegaskan bahwa mekanisme tersebut bukanlah donasi murni, melainkan bentuk transaksi berbasis dukungan terhadap kreator.
Penggunaan Dana dan Tanggung Jawab
Terkait dana yang dihimpun, Neo Historia menyatakan bahwa seluruh dana digunakan untuk memenuhi kewajiban perusahaan, biaya operasional, serta menjaga keberlangsungan media agar tetap berjalan sebagai media sejarah yang independen.
Mereka juga mengakui masih adanya kewajiban yang belum sepenuhnya terselesaikan, seperti pengiriman buku dan sertifikat kepada kontributor. Kendala logistik dan komunikasi disebut sebagai penyebab utama keterlambatan tersebut.
"Dana yang terkumpul dari dukungan di https://trakteer.id/neohistoria telah digunakan untuk membayar kewajiban-kewajiban perusahaan, biaya operasional, dan kebutuhan media agar Neo Historia Indonesia tetap dapat berfungsi sebagai media Sejarah yang independen dan merdeka," tambahnya.
Baca juga: Penumpang KRL yang Viral karena Tumbler Tuku Hilang Kini Dipecat! Ini Klarifikasi Perusahaannya
Tanggapan atas Tuduhan yang Beredar
Dalam klarifikasinya, pihak Neo Historia membantah sejumlah tuduhan yang beredar di publik, termasuk isu terkait kepemilikan apartemen oleh pihak internal.
Mereka menegaskan bahwa para pendiri tidak memiliki maupun tinggal di apartemen, dan hingga saat ini masih tinggal di rumah kos. Pernyataan ini disampaikan sebagai bantahan terhadap narasi yang dinilai tidak sesuai fakta.
"Ya, kami akui ada kesalahan manajemen internal saat itu. Terus dia yang menyebarkan tentang kabar ini. Padahl kami mengerjakan operasional dari rumah Kos di Depok," jelas Daniel.
Neo Historia juga menyebut bahwa klarifikasi ini bertujuan untuk meluruskan informasi yang dianggap sebagai fitnah dan kesalahpahaman yang berkembang di masyarakat.
Komitmen Perbaikan ke Depan
Sebagai penutup, Neo Historia menyampaikan permohonan maaf kepada publik dan para pihak yang terdampak.
Mereka berkomitmen untuk memperbaiki sistem pengelolaan serta komunikasi di masa mendatang agar kejadian serupa tidak terulang kembali.
Klarifikasi ini diharapkan dapat memberikan gambaran yang lebih seimbang serta menjadi bagian dari upaya transparansi kepada publik.
Neo Historia menjadi kanal sejarah yang cukup populer di media sosial. Interaksi mereka di akun sosial media X atau dulu Twitter selalu menarik perhatian. Hal ini menarik karena konten mereka adalah sejarah.
Baca juga: Klarifikasi Pengungsi Rohingya soal Video Buang Makanan: Belum Terbiasa Makanan Pedas
Daniel Limantara, founder dari Neo Historia mengatakan motif awal berdirinya dari Neo Historia adalah ingin membuat sejarah lebih menyenangkan. Hal ini karena kekhawatirannya generasi muda tidak lagi menyukai sejarah.
Saat ini, Neo Historia juga sangat vokal dengan kejadian yang terjadi saat ini di Indonesia. Hal ini membuat mereka menjadi sasaran berit dan rumor palsu yang dibuat untuk melemahkan mereka.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Wawancara