Ilustrasi dinamika perasaan dalam sebuah hubungan.. (freepik/wayhomestudio)
INDOZONE.ID - Pernahkah kamu merasa ada seseorang yang menarik perhatianmu, padahal hubungan dengan pasangan sedang baik-baik saja?
Bisa jadi itu rekan kerja yang nyambung diajak ngobrol, teman lama yang tiba-tiba hadir lagi, atau orang baru yang tanpa sadar mencuri perhatian.
Hal seperti ini sering membuat seseorang bertanya, "Apa ini berarti aku sudah tidak mencintai pasanganku lagi?"
Jawabannya ternyata tidak sesederhana itu.
Baca juga: Panduan Lengkap Struktur Proposal 17 Agustus yang Runtut dan Resmi
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa menganggap orang lain menarik tidak selalu berarti rasa cinta kepada pasangan telah hilang.
Menurut psikologi, cinta dan ketertarikan melibatkan sistem yang berbeda di otak, sehingga keduanya tidak selalu berjalan beriringan.
Banyak orang mengira cinta hanyalah satu emosi. Padahal, antropolog biologis Helen Fisher menjelaskan bahwa cinta melibatkan tiga sistem yang saling berkaitan, yaitu hasrat seksual (lust), ketertarikan romantis (attraction), dan keterikatan emosional (attachment).
Ketiga sistem tersebut saling berkaitan, tetapi dapat bekerja secara relatif mandiri. Artinya, seseorang tetap bisa memiliki ikatan emosional yang kuat dengan pasangannya, tetapi pada saat yang sama menganggap orang lain menarik. Namun, hal itu tidak serta-merta berarti rasa cintanya kepada pasangan telah hilang.
Baca juga: Ayah Ini Prank Anak Perempuannya dengan Cara yang di Luar Nurul
Merasa seseorang menarik tidak selalu berarti ingin menjalin hubungan dengannya.
Melalui Investment Model of Commitment, Caryl E. Rusbult menjelaskan bahwa kuat atau tidaknya komitmen dipengaruhi oleh seberapa puas seseorang dengan hubungannya, seberapa banyak waktu, tenaga, dan perasaan yang telah ia curahkan, serta apakah ia menganggap ada hubungan lain yang lebih baik.
Karena itu, munculnya ketertarikan kepada orang lain tidak otomatis membuat komitmen seseorang terhadap pasangannya berubah.
Banyak orang mengira ketertarikan kepada orang lain hanya muncul ketika hubungan sedang bermasalah. Padahal, penelitian Helen Fisher menunjukkan bahwa sistem ketertarikan dan keterikatan bekerja melalui mekanisme yang berbeda pada otak.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Berbagai Sumber