INDOZONE.ID - Beberapa puluh tahun yang lalu, orang tua kita rela meminjam uang atau berutang demi sesuatu yang sifatnya, dibutuhkan, jangka panjang, produktif dan tentunya bermanfaat.
Mereka meminjam uang baik itu di bank dan lembaga simpan pinjam seperti koperasi untuk keperluan membeli sepetak sawah, modal usaha, atau cicilan rumah. Namun saat ini, wajah utang telah bergeser secara radikal.
Di era digital, lembaran utang tidak lagi dibuka di ruang perbankan formal yang kaku, melainkan beralih lewat ketukan jari di layar handphone. Generasi Z (Gen Z) kini tak ragu menggunakan kredit atau yang disebut pay letter demi memenuhi kebutuhan konsumtif dan gaya hidup.
Baca juga: RBR Singgah Hadir di Malang Creative Center, Ajak Gen Z Kenal Lebih dekat Rumah Budaya Ratna
Mereka rela berutang dan nyicil demi selembar tiket konser impian, liburan estetik, gadget flagship terbaru, hingga sekadar ongkos nongkrong di kedai kopi demi validasi visual.
Tirani Algoritma dan Godaan Bernama FOMO
Mengapa pergeseran ini terjadi begitu masif. Jika kita tarik jauh ke belakang, akar masalahnya terletak pada lapisan pertama yaitu media sosial dan tirani algoritma.
Jika dulu, standar hidup seseorang atau kita diukur secara terbatas dari lingkungan sosial sekitarnya. Namun saat ini, standar kemakmuran dan kebahagiaan, sepenuhnya didikte oleh algoritma linimasa media sosial.
Hanya dalam hitungan menit menggulir atau scrolling media sosial, kita disajikan potret kehidupan orang lain yang tampak jauh lebih sukses, kaya, dan bahagia.
Algoritma bekerja tanpa henti memicu perasaan tertinggal, melahirkan monster psikologis modern yang kerap disebut Fear Of Missing Out (FOMO).
Keinginan untuk menyamai pengalaman sosial kelompok sebaya pun meningkat jauh melampaui kurva pendapatan atau penghasilan riil.
Paradoks psikologis ini terkonfirmasi dalam sebuah dipublikasikan pada RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business (2026) dengan judul “Takut Ketinggalan Jadi Alasan Beli: Pengaruh FOMO, Content Marketing, dan Perceived Quality terhadap Keputusan Pembelian JennSkin di Bali”.
Baca juga: Gen Z Mulai Khawatir Penuaan Dini, Dokter Kecantikan Ungkap Cara Menjaga Kualitas Kulit
Hasil riset tersebut membuktikan bahwa faktor FOMO memiliki pengaruh kuat yang signifikan dan jauh lebih dominan dalam mendorong perilaku konsumtif di media sosial jika dibandingkan dengan paparan iklan digital secara konvensional.
Menghilangkan 'Rasa Sakit' Belanja
Jika media sosial bertindak sebagai pemantik hasrat, maka ekosistem teknologi finansial modern adalah bahan bakarnya. Di masa lalu, transaksi tunai memiliki mekanisme psikologis alami berupa "pain of paying" atau rasa sakit saat mengeluarkan uang secara fisik dari dompet.
Hambatan alami inilah yang kini sengaja dihilangkan oleh inovasi digital. Kehadiran sistem pembayaran Buy Now, Pay Later (BNPL) serta aplikasi pinjaman online (pinjol) ilegal maupun legal membalikkan hukum belanja.
Barang dinikmati hari ini, rasa sakit finansialnya ditunda ke masa depan. Hanya butuh satu jepretan swafoto dan dokumen pribadi, dana segar cair dalam hitungan menit. Meminjam uang kini terasa jauh lebih instan ketimbang memesan sepiring makanan secara daring.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama Kementerian PPPA kerap merilis peringatan keras mengenai tren ini. Berdasarkan data berkala, mayoritas penerima aliran dana pinjaman online dengan rasio kredit macet yang tidak sehat didominasi oleh kelompok usia produktif antara 19 hingga 34 tahun.
Baca juga: Kepala BPOM Ajak Gen Z Cintai Jamu, Warisan Budaya Indonesia yang Sudah Diakui UNESCO
Minimnya literasi keuangan dasar mengenai bunga berbunga dan dampak skor kredit memperparah risiko jebakan lingkaran setan tersebut.
Perangkap Utang Digital
Sisi gelap dari fenomena ini adalah instrumen kredit tidak pernah peduli dengan alasan psikologis di balik keputusannya. Ketika tenggat waktu jatuh tempo tiba, bunga berjalan memicu tekanan psikologi masif yang kerap berujung pada pola "gali lubang tutup lubang".
Generasi yang paling katanya ahli mengoperasikan aplikasi digital ini, justru menjadi kelompok yang paling rentan terhadap perangkap utang digital.
Pada akhirnya, fenomena utang konsumtif ini merupakan alarm darurat bagi sistem ekonomi modern yang dirancang untuk memicu konsumsi agresif tanpa henti.
Tidak ada yang salah dengan menikmati hasil kerja keras melalui liburan atau hiburan. Namun, saat sebuah generasi mulai terbiasa berutang demi membeli kebahagiaan semu yang belum mampu mereka beli, mereka sesungguhnya sedang meminjam masa depan demi membayar masa kini.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Jurnal, OJK, Kementerian PPPA