INDOZONE.ID - Indonesia dikenal dengan iklim tropisnya yang panas dan lembap sepanjang tahun. Sayangnya, kondisi ini bukan hanya membuat kulit cepat berkeringat, tapi juga jadi penyebab utama rambut cepat lepek dan berminyak.
Ditambah lagi dengan tingkat polusi udara di kota besar seperti Jakarta, masalah rambut ini makin banyak dialami masyarakat.
Berdasarkan survei yang dilakukan pada tahun 2022 terhadap lebih dari 3.000 partisipan di Jakarta, sekitar 26,1 persen responden mengaku mengalami rambut lepek. Artinya, lebih dari seperempat penduduk kota merasakan masalah yang sama.
“Jadi lebih dari seperempatnya (responden) bilang rambutnya lepek. Itu masalah utama mereka. Dan juga karena polusi, kulitnya banyak bakteri, banyak jamur, ada sampai sensitif, sampai ketombe gitu,” ungkap Founder Woshday Rey Nathanael yang juga hari stylish terkenal dalam peluncuran produk perawatan rambut baru Woshday x Sociolla di Jakarta.
Iklim Tropis, Polusi, dan Over-Secretion Sebum
Dijelaskan Rey, faktor utama rambut lepek di Indonesia adalah oversebum atau produksi minyak berlebih di kulit kepala. Cuaca panas membuat kelenjar minyak bekerja ekstra, sementara udara lembap dan polusi menyebabkan kotoran menempel lebih mudah di kulit kepala.
“Masalah rambut lepek di Indonesia sebenarnya berakar dari kulit kepala berminyak. Sama seperti kulit wajah, kalau terlalu banyak minyak, bisa memicu jamur dan ketombe,” jelas sang ahli.
Ia menambahkan, produk-produk perawatan rambut yang banyak beredar saat ini sering kali dikembangkan di negara beriklim dingin seperti Eropa atau Amerika, di mana kondisi cuaca dan kelembapannya sangat berbeda.
“Produk luar itu bagus, tapi tidak dirancang untuk rambut di iklim tropis yang panas, lembap, dan berpolusi seperti Indonesia. Makanya banyak orang di sini merasa rambutnya tetap lepek meski sudah keramas setiap hari,” ujarnya.
Riset 3 Tahun untuk Temukan Solusi Rambut Tropis
Melihat banyaknya keluhan dari para klien dan pengikutnya di media sosial, Rey tergerak untuk menciptakan solusi. Ia mengaku mengumpulkan data langsung dari lebih dari 250 orang yang memiliki masalah rambut serupa.
“That's what I realized. Makanya akhirnya aku pikir harus pilih produk yang cocok pada penduduk baru kita.“
“Kan sekarang ada yang trending wellness, padel, tenis. Mereka sering merasa aduh malas banget, keramas gitu kan. Selalu ada aja masalahnya gitu. Sampai butuh 3 tahun untuk bikin produk ini. Dan, ternyata memang period of time-nya cukup lama ya,” tambahnya.
Baca juga: 10 Rekomendasi Shampoo Rambut Berminyak di Minimarket
Momen Menarik Mengembangkan Produk
Menariknya, setiap kali bikin sampel produk, Rey harus kirim ke responden untuk dites. "Dari 100-an orang yang coba, 92 persen bilang efeknya terasa banget, rambut lebih bersih, ringan, tapi gak kering,” katanya.
Gak heran kalau proses pengembangan produk ini tidak instan. Butuh waktu tiga tahun untuk menemukan formula yang pas.
Salah satu kandungan utamanya adalah Suganate, bahan pembersih yang lembut namun mampu membersihkan kulit kepala secara efektif tanpa membuatnya kering.
Selain itu, produk juga mengandung apple cider vinegar (cuka apel) yang berfungsi menyeimbangkan pH dan mengangkat sisa polusi dari rambut, serta panthenol dan amino esensial untuk menjaga kelembapan tanpa membuat rambut terasa berat.
Conditioner Tanpa Silikon, Solusi Anti-Lepek
Salah satu inovasi lain yang dikembangkan adalah conditioner tanpa silikon. Mayoritas conditioner di pasaran menggunakan silikon agar rambut terasa halus dan licin seketika. Namun efek licin itu justru bisa menumpuk di kulit kepala dan membuat rambut semakin cepat lepek.
“Conditioner ini bebas silikon tapi tetap bikin rambut halus. Kami pakai kombinasi amino esensial dan panthenol, yang menjaga kelembapan alami tanpa bikin lapisan licin menumpuk. Aman buat anak-anak, ibu hamil dan ibu menyusui,” ungkapnya.
Baca juga: Terbukti Lebih Praktis, Inilah 5 Alasan Mengapa Anda Harus Pakai Dry Shampoo Mulai Sekarang!
Mengintip Tren Hair Care di Indonesia
Berdasarkan data SOCO Insight Factory, kategori hair & scalp care mengalami pertumbuhan lebih dari dua kali lipat dalam kurun dua tahun terakhir (2023–2025).
Tren ini didorong oleh meningkatnya kesadaran konsumen akan pentingnya merawat rambut dan kulit kepala sebagai bagian dari rutinitas self-care, mencakup berbagai kebutuhan seperti perawatan kulit kepala, anti-lepek, hingga perawatan rambut kering dan rusak.
Dalam kesempatan sama, Co-founder & CMO Social Bella Chrisanti Indiana, menyampaikan, selain faktor karakteristik iklim tropis Indonesia yang lembap dan panas. Begitu juga dengan gaya hidup masyarakat yang dinamis.
“Dengan tingginya minat terhadap bahan seperti ceramide, peptide, centella, dan botanical extractsyang membantu menjaga keseimbangan kulit kepala ini menunjukkan bahwa semakin banyak konsumen mencari produk yang ringan, bersih, dan efektif menjaga rambut tetap segar di iklim tropis,” ujar Santi.
Ditambah sekarang ini, brand lokal hair care juga berpotensi dilirik pasar wanita dan pria. Terlebih buat mereka yang sering mengalami permasalahan rambut dan sering gak cocok pakai produk shampoo luar.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan