Kamis, 16 JULI 2026 • 14:10 WIB

Perempuan Indonesia Rentan Alami Melasma, Flek di Wajah yang Sulit Hilang

Author

Ilustrasi melasma. (Freepik)

INDOZONE.ID - Munculnya flek di wajah sering dianggap masalah kulit biasa. Padahal, flek hitam itu bisa jadi tanda melasma, gangguan pigmentasi yang cukup sering dialami masyarakat Indonesia.

Perempuan Indonesia termasuk kelompok yang lebih rentan mengalami melasma. Hal ini dipicu karena oleh faktor lingkungan dan karakteristik kulit sebagian besar orang Indonesia.

Lebih dari 90% penderita melasma adalah wanita. Studi global terhadap 41.283 pasien melasma menemukan bahwa 93% pasien adalah perempuan, menunjukkan bahwa melasma jauh lebih sering terjadi pada perempuan dibandingkan pria.

Sekitar 80–96% kasus melasma terjadi pada wanita, terutama pada usia reproduktif (menacme). Melasma paling sering mulai muncul pada usia 20–30 tahun, dan paling banyak ditemukan pada wanita usia akhir 20-an hingga awal 40-an.

Baca juga: 6 Manfaat Gambir untuk Wajah, Bantu Jaga Kulit Tetap Sehat

Kenapa Orang Indonesia Lebih Rentan Mengalami Melasma?

Salah satu penyebab utama melasma adalah paparan sinar matahari. Sinar ultraviolet (UV) dan cahaya tampak atau visible light, termasuk blue light, dapat merangsang produksi melanin berlebih yang memicu munculnya bercak gelap pada kulit.

Indonesia yang berada di wilayah tropis memiliki jumlah paparan sinar UV yang tinggi hampir sepanjang tahun. 

Kondisi ini membuat risiko munculnya melasma lebih besar, jika dibandingkan negara dengan paparan matahari yang lebih rendah.

Selain itu, mayoritas orang Indonesia memiliki fototipe kulit Fitzpatrick IV-V, secara alami lebih mudah mengalami hiperpigmentasi akibat paparan sinar matahari.

Baca juga: Manfaat Suntik Vitamin C untuk Kulit, Ketahui Sebelum Mencobanya

Faktor lain seperti perubahan hormon, genetik, paparan visible light, hingga inflamasi pada kulit juga dapat memicu munculnya melasma.

Beda Melasma dan Flek

Banyak perempuan masih sulit membedakan melasma dengan flek hitam biasa. Padahal, keduanya memiliki karakteristik yang berbeda.

Melasma biasanya muncul dalam bentuk bercak yang lebih luas dan cenderung simetris di kedua sisi wajah, terutama pada pipi, dahi, hidung, dan atas bibir. Kondisi ini disebabkan karea paparan sinar matahari, faktor hormonal, dan genetik.

Sementara flek hitam umumnya berupa bintik-bintik yang lebih kecil dan muncul akibat bekas jerawat, iritasi, luka, atau peradangan pada kulit. Flek biasanya lebih mudah memudar dibandingkan melasma jika ditangani dengan tepat.

Baca juga: Manfaat Facial Wajah untuk Kesehatan dan Kecantikan Kulit

Pengalaman ini pernah dirasakan oleh Margaret Vivi, seorang pengusaha dan sosialita, yang juga penyintas melasma. Awalnya ia mengira noda yang muncul di wajahnya hanyalah flek biasa.

"Awalnya saya mengira ini hanya flek biasa. Lama-kelamaan saya jadi kurang percaya diri karena nodanya tidak kunjung memudar," ujarnya dalam acara Media Gathering Melasma Awareness Month Bersama Unison Medika di Jakarta, Rabu 15 Juli 2026.

Dalam kesempatan yang sama, Dermatologist Skinsation & C-Derma Clinic dr. Stanley Setiawan, SpDVE, FINSDV, FAADV, menjelaskan, diagnosis yang tepat menjadi langkah penting sebelum menentukan terapi melasma. Karena tidak semua noda gelap di wajah adalah melasma. 

“Karena penyebabnya bisa berbeda, pemeriksaan oleh dokter penting agar pasien mendapatkan terapi yang sesuai. Di sisi lain, pengobatan mandiri tanpa pemahaman yang benar berisiko merusak skin barrier dan memperburuk kondisi kulit," papar sang dokter.

Baca juga: Pameran Hewan Bakal Digelar di Bekasi Selama 3 Hari, Hadirkan Vaksin Gratis hingga Cat Show Internasional

Terapi Melasma Sesuai Saran Dokter

Dokter Stanley menyarankan, jika noda gelap di wajah tak kunjung memudar, meski sudah menggunakan berbagai produk perawatan kulit, sebaiknya konsultasi dengan dokter kulit. Hal ini perlu dilakukan agar penyebabnya dapat diketahui dan ditangani dengan tepat.

Untuk memperbaiki kualitas kulit, sekaligus memudarkan noda gelap, dr. Stanley juga menyarankan pasien untuk melakukan tindakan redermalisasi dengan skin booster yang mengombinasikan hyaluronic acid dan succinic acid untuk membantu memudarkan hiperpigmentasi sekaligus memperbaiki hidrasi dan kualitas kulit. 

Sementara itu, Aesthetic Doctor dr. Ratna Yuliarviana, dipl.AAAM menambahkan, keberhasilan terapi melasma memerlukan pendekatan yang komprehensif. Menurutnya, melasma bisa dikendalikan, tetapi membutuhkan kesabaran dan konsistensi. 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Liputan

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU