INDOZONE.ID - Batik Sayur, atau dikenal juga sebagai batik sebo, merupakan karya khas Desa Ngabab yang lahir dari perjalanan kreatif masyarakat setempat. Awalnya, desa ini belum dikenal sebagai sentra batik, melainkan sebagai kampung dengan rumah-rumah warga yang dihiasi mural bermotif batik. Upaya tersebut dilakukan untuk menyalurkan kreativitas para pemuda yang gemar mencoret-coret agar dapat berkarya secara positif.
Seiring waktu, ketika kampung tampak hidup dengan lukisan mural batik, Kepala Desa Ngabab memiliki gagasan agar desa tersebut memiliki batik khas yang benar-benar menjadi identitas lokal.
Inspirasi motif Batik Sayur berasal dari potensi desa. Tanaman sayur seperti wortel, kol, sawi, dan cabai yang menjadi hasil pertanian utama warga kemudian diangkat sebagai motif utama batik. Selain itu, karena sekitar 80 persen warga Ngabab berprofesi sebagai peternak sapi perah, unsur sapi turut dimasukkan sebagai motif pendukung.
Baca juga: RSBS Hidupkan Kembali Batik Cap Singhasari Lewat Tradisi Reboan
Untuk mewujudkan batik khas tersebut, desa mendatangkan narasumber khusus guna membuat cap batik bermotif sayur. Awalnya, ukuran cap terbilang besar, namun kemudian direvisi agar tampil lebih proporsional dan menarik. Setelah melalui proses penyempurnaan, Batik Sayur resmi disahkan sebagai batik khas Desa Ngabab.
Proses produksi Batik Sayur dilakukan di Kampung Batik menggunakan teknik batik cap yang sepenuhnya dikerjakan secara manual. Malam dipanaskan di atas loyang, kemudian cap dicelupkan dan ditekan ke atas kain putih. Setelah itu, kain diberi warna dan dilakukan penguncian warna menggunakan water glass agar tidak mudah luntur. Tahap akhir adalah pelorotan untuk menghilangkan malam, lalu kain dicuci hingga bersih.
Produksi dilakukan setiap hari. Dalam satu hari, dua hingga tiga orang perajin mampu menyelesaikan satu lembar kain. Selain teknik batik cap, sejumlah ibu-ibu juga mempraktikkan batik tulis menggunakan canting.
Produksi Batik Sayur dijalankan oleh Kelompok Bangkit, organisasi desa yang berdiri sejak 2018. Kelompok ini sempat vakum saat pandemi, namun kembali aktif pada 2023. Nama “Bangkit” dipilih sebagai simbol kebangkitan setelah masa sulit.
Sejak aktif kembali, Batik Sayur mulai digunakan secara luas, mulai dari seragam pemerintah desa, lembaga-lembaga desa, hingga para guru. Ke depan, murid-murid baru juga direncanakan mengenakan Batik Sayur dengan warna khusus yang membedakan mereka dari para guru. Desa pun telah bekerja sama dengan SDN 1 Ngabab untuk menyelenggarakan ekstrakurikuler membatik cap, agar generasi muda mengenal proses dan nilai budaya batik sejak dini. Sementara itu, masyarakat umum dapat memesan Batik Sayur dengan motif sesuai selera.
Dalam pemasaran, Batik Sayur dijual dalam bentuk kain, bukan pakaian jadi, agar pembeli bebas menentukan model sesuai kebutuhan. Satu lembar kain berukuran sekitar 2,2 meter dibanderol dengan harga mulai dari Rp200.000 hingga Rp800.000.
Batik Sayur juga pernah dipamerkan di Jakarta dan berhasil terjual habis. Bahkan, Gubernur Jawa Timur sempat membawa Batik Sayur setelah berkunjung ke pameran di Cangar, sebagai bentuk pengakuan atas kualitas karya tersebut.
Baca juga: Rayakan Semangat Budaya Indonesia Lewat “Festival Batik Nusantara 2025” di Car Free Day Jakarta
Meski demikian, Batik Sayur masih menghadapi sejumlah tantangan, terutama dalam hal pendanaan. Walau sumber daya manusia sudah memadai, biaya produksi menjadi kendala utama. Kelompok Bangkit mengandalkan modal dari hasil penjualan untuk membeli bahan baku seperti malam dan pewarna yang harganya relatif tinggi. Beberapa bahan, khususnya pewarna yang didatangkan dari Solo, bahkan bisa mencapai satu juta rupiah per kilogram.
Di sisi lain, pemerintah desa tengah mengupayakan pengurusan hak paten agar Batik Sayur tidak ditiru oleh daerah lain. Ke depan, Desa Ngabab berharap dapat terus berinovasi, termasuk menghidupkan kembali kegiatan membatik mural di rumah-rumah warga.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan