INDOZONE.ID - Di Jepang pada 1963, Zaman Edo di Era Tokugawa, sebuah kesenian teater bernama Kabuki mulai berkembang dan dikenal di tengah khalayak.
Pertunjukan ini awalnya dimainkan oleh rombongan penghibur keliling, yang dipelopori oleh seorang wanita bernama Izumo no Okuni.
Dia ialah seorang wanita penjaga kuil Izoma yang memimpin kelompok teater Kabuki. Pertunjukan ini berupa tarian-tarian sandiwara pendek, yang biasanya dipertontonkan di atas Sungai Kamogawa di kyoto yang saat itu mengering.
Baca juga: Tak Disangka! Tarian Energik Bocah Ini Bikin Pacu Jalur Riau Viral Jadi Sorotan Dunia
Belakangan kelompok pertunjukan ini menjadi sangat terkenal di Jepang. Pada awal-awal kemunculannya Kabuki pernah dilarang oleh pemerintah Bakufu (Pemerintah Militer).
Hal itu dipicu banyaknya penyelewengan sosial, seperti prostitusi, di kalangan pemain wanita Kabuki. Namun kemudian, pada bulan Maret 1653, pementasan drama Kabuki diizinkan kembali oleh pemerintah.
Akan tetapi pemerintah mengajukan dua syarat. Pertama, para pemain harus laki-laki dewasa dan rambutnya harus dipotong seperti samurai. Kedua pementasan Kabuki dilarang menggunakan lagu dan tarian yang dapat menimbulkan nafsu birahi.
Karena itu, pementasan Kabuki menggunakan pria untuk memerankan karakter perempuan. Pria yang berperan sebagai wanita dalam bahasa Jepang disebut mono mane kyogen.
Baca juga: Kabasaran, Tari Perang Masyarakat Minahasa Simbol Semangat Ksatria Melindungi Wanua
Sejak itu, Kabuki bukan lagi teater keliling tetapi sudah ditampilkan pada suatu tempat pertunjukkan yang sekarang dikenal dengan kabukiza.
Drama Kabuki menceritakan tentang peristiwa sejarah dan konflik moral dalam hubungan percintaan. Para pemain Kabuki berbicara dengan suara yang monoton dan diiringi dengan alat musik tradisional Jepang.
Biasanya panggung pertunjukan Kabuki dilengkapi dengan beberapa alat, seperti panggung putaran dan pintu jebakan tempat para pemain dapat muncul dan menghilang.
Baca juga: Mahakarya Wayang Kulit Tradisional Indonesia yang Mendunia
Karakteristik penting dalam drama pertunjukan Kabuki ialah musik, kostum, perangkat panggung, dan alat peraga yang khas.
Tata rias khusus memberikan elemen gaya yang sangat unik yang menonjolkan karakter tokoh.
Dunia Kabuki ialah salah satu keindahan gaya. Pada waktu klimaks emosi, para aktor seolah membeku.
Pada saat itu panggung memperlihatkan gambar yang indah. Para aktor menganggap pose itu sebagai bagian penting pertunjukan.
Para penonton akan memecahkan keheningan dengan meneriakkan kata-kata dorongan, seperti lyo dan Harimaya.
Baca juga: Asal-usul Nama “Gajah Bolong” Baureno: Jejak Sejarah Lokal Bojonegoro
Kabuki kini berkembang menjadi drama yang sesungguhnya, lengkap dengan panggung dan dialog. Kabuki mengalami masa kejayaanya pada akhir abad ke-18.
Hingga saat ini pertunjukan Kabuki masih digemari oleh masyarakat Jepang. Kesenian ini juga menarik perhatian orang asing yang ingin mengenal kebudayaan Jepang.
Kabuki menjadi salah satu bentuk drama klasik Jepang yang sangat menarik, mempesona bahkan memukau para penonton yang menontonnya.
Sumber : Renariah. (2008). Kabuki. Universitas Kristen Maranatha Bandung. Vol. 7, No. 2
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Jurnal Sastra Jepang