INDOZONE.ID - Hari Raya Galungan merupakan salah satu rangkaian hari suci terpenting bagi umat Hindu di Indonesia, khususnya di Bali.
Dirayakan setiap 210 hari atau 6 bulan sekali berdasarkan perhitungan kalender Saka Bali, Galungan tidak hanya momen untuk melakukan persembahan dan sembahyang, tetapi juga waktu untuk kembali merenungkan keseimbangan antara dharma (kebaikan) dan adharma (keburukan) dalam kehidupan.
Tahun 2025 menjadi istimewa karena umat Hindu akan merayakan dua kali Galungan dan Kuningan, masing-masing pada bulan April-Mei dan November.
Untuk memahami keistimewaan perayaan ini, berikut penjelasan lengkap mengenai filosofi, makna, jadwal, dan rangkaian upacaranya.
Baca juga: Kumpulan Ucapan Selamat Hari Raya Galungan Bali 2025 Bahasa Bali dan Indonesia
Filosofi Hari Raya Galungan
Dalam tradisi Hindu Bali, Galungan dipahami sebagai simbol kemenangan Dharma (kebenaran) melawan Adharma (keburukan).
Makna ini dituangkan dalam lontar Sunarigama yang berbunyi:
"Budha Kliwon Dungulan Ngaran Galungan… galang apadang maryakena sarwa byapaning idep."
Artinya, Galungan adalah hari ketika manusia diarahkan untuk menyatukan kekuatan rohani agar memperoleh pandangan yang terang dan mampu melenyapkan kekacauan pikiran.
Kejernihan pikiran inilah wujud dharma, sedangkan kekacauan idep adalah bentuk adharma.
Jadi bisa disimpulkan, inti filosofi Galungan adalah meneguhkan spiritualitas di tengah kehidupan duniawi, mensucikan pikiran dari keraguan, ego, dan hawa nafsu, serta memperkuat komitmen untuk selalu berada di jalan kebenaran.
Makna Spiritual bagi Generasi Muda
Bagi generasi modern, terutama gen z yang hidup di era digital penuh distraksi, nilai ini sangat relevan.
- Keteguhan dalam prinsip: memilah mana informasi benar dan salah.
- Kebersamaan dan gotong royong: di tengah gaya hidup individualis.
- Keseimbangan material spiritual: agar hidup tidak hanya berorientasi pencapaian.
- Pelestarian kearifan lokal: menjaga identitas budaya Bali di era globalisasi.
Galungan dengan demikian bukan sekadar ritual, tetapi panduan moral untuk menjaga harmoni hidup.
Jadwal Hari Raya Galungan 2025
Tahun 2025 memiliki dua siklus Galungan dan Kuningan, yakni Galungan I pada April–Mei 2025 dan Galungan II pada November 2025.
Dengan dua kali perayaan, umat Hindu memiliki kesempatan lebih besar untuk introspeksi diri dan memperkuat nilai dharma di sepanjang tahun.
Baca juga: Mengenal Penampahan Galungan, Tradisi Sembelih 'Hewan Kurban' Umat Hindu di Bali
Rangkaian Peringatan Hari Raya Galungan
Kesucian perayaan Galungan dimulai jauh sebelum hari puncaknya.
Setiap tahap memiliki makna mendalam bagi pembentukan spiritual umat.
Berikut rangkaian lengkap peringatan Galungan Bali:
1. Tumpek Wariga (25 hari sebelum Galungan)
Dipersembahkan kepada Sang Hyang Sangkara, Dewa kesuburan.
Umat menghaturkan bubuh sumsum berwarna dan memohon agar pohon serta tanaman berbuah untuk upacara Galungan.
2. Sugihan Jawa
Hari pembersihan Bhuana Agung (alam dan lingkungan luar).
Dilakukan dengan upacara Ngerebon, membersihkan merajan, rumah, dan lingkungan pura.
3. Sugihan Bali
Pembersihan Bhuana Alit, yaitu diri manusia.
Umat mandi, membersihkan diri, dan memohon Tirta Gocara untuk menyucikan jiwa raga.
4. Penyekeban
Hari mengekang indriya atau hawa nafsu.
Umat mengendalikan diri dari tindakan negatif sebagai persiapan batin menuju Galungan.
5. Penyajan
Hari ujian pengendalian diri, dipercaya sebagai waktu godaan dari Bhuta Dungulan.
Menjadi momen untuk memperkuat hati dan pikiran.
6. Penampahan Galungan
Jatuh sehari sebelum Galungan.
Kegiatan utama: membuat penjor, simbol kesuburan dan rasa syukur, penyembelihan babi sebagai simbol mengalahkan sifat kebinatangan dalam diri, dan persiapan sesajen untuk hari puncak.
7. Hari Raya Galungan
Puncak perayaan: sembahyang di pura dan rumah, menghaturkan sesajen, memohon berkah kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa, menyambut leluhur yang diyakini turun ke dunia.
8. Umanis Galungan
Hari setelah Galungan, diisi dengan: kunjungan keluarga, mempererat silaturahmi, merayakan kemenangan Dharma dengan sukacita.
9. Penampahan Kuningan & Hari Raya Kuningan
Menjadi penutup rangkaian dengan persembahyangan singkat sebelum tengah hari, menghaturkan sesajen khas Kuningan, serta memohon kemakmuran dan keselamatan.
10. Pegat Wakan (hari ke-42)
Penutup seluruh rangkaian Galungan–Kuningan.
Diisi dengan menghaturkan sesayut Dirgayusa dan persembahyangan sebagai tanda berakhirnya seluruh rangkaian suci.
Dengan memahami filosofi dan makna mendalam dari perayaan ini, umat Hindu, termasuk generasi muda, didorong untuk menjaga nilai-nilai luhur yang diwariskan leluhur, serta hidup selaras dengan alam dan sesama.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Bimashindu.kemenag.go.id, Djkn.kemenkeu.go.id, Undiknas.ac.id