Rabu, 03 DESEMBER 2025 • 12:15 WIB

Mengenal Tren Hikikomori: Fenomena Sosial dari Jepang yang Kini Muncul di Indonesia

Author

Ilustrasi menyendiri. (Freepik)

INDOZONE.ID - Pernahkah kamu melihat seseorang yang sering menyendiri atau mengurung di dalam kamar?

Bisa jadi orang tersebut sedang melakukan hikikomori. Pada dasarnya, hikikomori merupakan perilaku seseorang yang menarik diri dari kegiatan sosial.

Hal ini bukan berarti mereka tidak melakukan apapun. Mereka tetap melakukan aktivitas tapi hanya di dalam ruangan atau kamar, tanpa keluar sama sekali. 

Baca juga: Ahli Sebut Kebanyakan Tidur dan Menyendiri Jadi Tanda Seseorang Mendekati Ajal

Mereka juga cenderung melakukan aktivitasnya tanpa bantuan orang lain.

Nah, untuk lebih jelas mengenai hikikomir ini, berikut penjelasan lengkapnya.

Pengertian Hikikomori

Hikikomori merupakan fenomena budaya di Jepang yang membuat orang-orang tetap terisolasi dan menarik diri dari individu lainnya.

Fenomena ini dimulai dari didefinisikan di Jepang pada tahun 1990-an dalam sebuah buku yang ditulis oleh Saito Tamaki.

Tren ini semakin populer, hingga tahun 2010 di Jepang menemukan bahwa 1,2 persen dari populasi Jepang (antara usia 20 dan 49 tahun) melaporkan pernah mengalami hikikomori.  

Sampai saat ini, tren hikikomori masih menjadi populer untuk dilakukan, bahkan menyebar ke beberapa negara, salah satunya Indonesia.

Penyebab Hikikomori

Tekanan dari lingkungan dan karakteristik pribadi remaja dapat menjadi pemicu depresi. (pexels.com)

Penyebab seseorang memutuskan untuk hikikomori adalah adanya berbagai tekanan, termasuk stres akademis, ekspektasi orang tua, rasa takut gagal, atau tuntunan sosial lainnya.

Kondisi keluarga yang buruk juga dapat menjadi penyebabnya, misalnya trauma di masa kecil, perlakuan buruk dari orang tua, dan mengalami pelecehan.

Tahapan Umum Hikikomori 

Hikikomori umumnya tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan berkembang secara bertahap.

Penarikan diri selama tiga bulan pertama dikenal sebagai fase pra-hikikomori, di mana seseorang mulai menjauh dari interaksi sosial.

Seiring memburuknya kondisi, mereka tak hanya menarik diri secara fisik, tetapi juga secara emosional dari hubungan tatap muka.

Pada tahap akhir, individu sepenuhnya melepaskan diri dari dunia nyata dan tenggelam dalam kehidupan virtual sebagai bentuk pelarian total.

Baca juga: Suka Menyendiri, Ini 4 Hal yang Biasa Dilakukan Oleh Zodiak Cancer

Cara Mengatasi  Hikikomori  

Penanganan hikikomori lebih menitikberatkan pada psikoterapi dibanding penggunaan obat, meski obat tetap dipakai jika ada gangguan mental yang menyertai.

Di Jepang, penderita bisa mengakses pusat kesehatan medis, komunitas sosial, atau kegiatan terapi yang dirancang untuk membantu mereka kembali terhubung dengan lingkungan.

Selain psikoterapi, dukungan keluarga, teman dan aktivitas fisik seperti olahraga terbukti membantu mempersingkat durasi penarikan diri.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Psychology Today, Britannica

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU