INDOZONE.ID - Meski zaman semakin maju dan modern, namun masyarakat Sulawesi Tenggara, khususnya etnis Muna dan Buton, tetap teguh menjaga warisan leluhur yang sarat akan makna spiritual dan sosial.
Salah satu tradisi yang masih eksis hingga saat ini yaitu Haroa, atau yang secara lokal sering disebut dengan istilah "Baca-Baca".
Tradisi tersebut bukan hanya sekadar ritual rutin, melainkan jembatan yang menghubungkan manusia dengan Sang Pencipta, sesama manusia, dan alam semesta melalui doa dan hidangan syukur.
Baca juga: Potret Mata Biru Cerah Masyarakat Suku Buton dan Bugis, Mirip Karakter Anime
Apa Itu Tradisi Haroa?
Secara etimologis, istilah Haroa memiliki akar kata yang mendalam. Menurut Zakridatul (2019) dalam buku Haroa dari Suku Muna dan Buton yang diterbitkan oleh Kemendikbud, kata Haroa berasal dari bahasa Muna "Haro" yang berarti menyapu atau membersihkan.
Makna ini sejatinya mencerminkan filosofi pembersihan diri dari dosa-dosa dan juga pembersihan harta melalui sedekah makanan.
Masyarakat setempat sering menyebutnya sebagai "Baca-Baca" karena inti dari prosesi ini adalah pembacaan doa-doa keselamatan dan ayat suci Al-Qur'an oleh seorang tokoh agama yang disebut Lebe atau Moji.
Momentum Pelaksanaan Haroa
Haroa bersifat fleksibel namun sakral. Tradisi ini biasanya digelar untuk menandai transisi waktu atau peristiwa penting dalam hidup, seperti:
- Siklus Hari Besar Islam: Haroa menjadi pemandangan wajib saat menyambut bulan suci Ramadhan, malam Lailatul Qadar, hingga perayaan Idul Fitri dan Idul Adha.
- Siklus Kehidupan: Mulai dari kelahiran (akikah), pernikahan, hingga peringatan kematian anggota keluarga.
- Syukuran (Hajat): Menempati rumah baru, kelulusan, hingga syukuran atas kesembuhan dari penyakit.
Baca juga: Viral, Guru Asal Buton Curhat hingga Menangis di Hadapan Paus Fransiskus
Filosofi di Balik "Dulang"
Salah satu ciri khas Haroa adalah penggunaan Dulang atau Tala, yaitu nampan besar berisi aneka panganan tradisional. Susunan makanan di dalam Dulang tidak sembarangan.
Menurut penelitian yang dipublikasikan dalam Jurnal Lisani Universitas Halu Oleo (2020), setiap elemen hidangan dalam Haroa memiliki simbolisme tertentu yang melambangkan kebulatan tekad dan kesatuan hati masyarakat dalam memohon berkah.
Setelah doa selesai dipanjatkan, peserta yang hadir akan makan bersama dari Dulang tersebut. Praktik ini mempererat tali silaturahmi tanpa memandang status sosial, yang dalam kacamata sosiologi budaya sering dianggap sebagai media resolusi konflik dan integrasi sosial yang efektif.
Nilai Spiritual dan Sosial
Bagi masyarakat Sulawesi Tenggara, Haroa adalah manifestasi dari rasa syukur. Sebagaimana dijelaskan dalam jurnal Analisis Semiotika Roland Barthes dalam Tradisi “Haroa” pada Malam Pebahoka, ritual ini menekankan pentingnya introspeksi diri (muhasabah) sebelum memasuki hari-hari besar atau memulai lembaran hidup yang baru.
Selain dimensi vertikal (Tuhan), dimensi horizontal (manusia) sangat kental terasa. Dengan mengundang tetangga dan kerabat untuk "baca-baca", tuan rumah sebenarnya sedang mempraktikkan ajaran sedekah secara nyata.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Jurnal, Buku