INDOZONE.ID - Masyarakat suku Osing di Banyuwangi, Jawa Timur, hingga kini masih merawat dengan sangat baik sebuah tradisi unik warisan leluhur yang dikenal dengan nama Mepe Kasur (menjemur kasur).
Tradisi turun-temurun ini bukan sekadar aktivitas bersih-bersih rumah biasa menjelang bulan penanggalan Islam tertentu, melainkan sebuah ritual komunal yang sarat akan nilai filosofis dan spiritual yang mendalam.
Setiap kali ritual ini digelar, pemandangan di sepanjang jalan desa akan berubah drastis karena dipenuhi oleh deretan kasur yang dijemur secara serempak di depan rumah warga.
Keunikan utama dari tradisi ini terletak pada warna kasur yang digunakan, di mana seluruh warga desa kompak menggunakan kasur dengan kombinasi warna yang seragam, yaitu hitam dan merah.
Pemilihan warna hitam dan merah pada kasur tersebut sama sekali bukan karena kebetulan atau mengikuti tren estetika modern.
Bagi masyarakat luhur Osing, warna hitam melambangkan kelanggengan, kekuatan, dan keabadian dalam mengarungi bahtera rumah tangga, sementara warna merah merepresentasikan semangat, keberanian, kerja keras, dan kehangatan cinta.
Secara filosofis, perpaduan kedua warna ini di atas sebuah kasur dimaknai sebagai doa dan harapan agar setiap pasangan suami istri yang tidur di atasnya selalu dianugerahi keharmonisan.
Kasur dipandang sebagai tempat yang sakral dalam sebuah keluarga, tempat di mana komunikasi paling intim terjadi dan tempat di mana fondasi kebahagiaan rumah tangga dibangun.
Baca juga: 7 Model Rambut Pendek Pria untuk Anak Kuliah, Rapi dan Anti Ribet!
Selain sebagai simbol keharmonisan keluarga, ritual menjemur kasur secara massal ini juga memiliki fungsi sosial yang sangat kuat di tengah kehidupan bermasyarakat.
Ketika warga keluar rumah bersama-sama untuk menjemur dan membersihkan kasur mereka, momen tersebut secara otomatis berubah menjadi ruang interaksi sosial, tempat saling menyapa, dan mempererat tali silaturahmi antar-tetangga.
Tidak hanya itu, tradisi ini juga mengandung pesan edukasi yang sangat tinggi mengenai pentingnya menjaga kebersihan lingkungan dan kesehatan fisik.
Suku Osing meyakini bahwa kasur yang bersih, kering, dan terbebas dari debu setelah dijemur di bawah terik matahari, akan menjauhkan para penghuni rumah dari berbagai macam penyakit serta gangguan roh jahat.
Pelaksanaan tradisi Mepe Kasur ini biasanya dilakukan secara berkala dan serentak pada waktu-waktu yang sudah ditentukan berdasarkan kalender adat setempat, salah satunya menjelang pelaksanaan ritual bersih desa.
Hal ini menunjukkan betapa terstrukturnya kehidupan adat masyarakat Osing yang selalu menyelaraskan aktivitas domestik rumah tangga dengan upacara sakral tingkat desa.
Proses penjemuran kasur ini pun dilakukan dengan tata cara yang tertib sejak pagi hari ketika matahari mulai memancarkan sinar yang cukup terik.
Kasur-kasur tersebut akan dipukul-pukul menggunakan alat pemukul khusus dari rotan agar debu yang menempel hilang, sekaligus sebagai simbol membuang segala hal buruk atau sial yang ada di dalam rumah.
Baca juga: Ungkap Rindu Tanah Suci, Intip Gaya Hijab Linda Anggrea Bernuansa Haramain 2 untuk Idul Adha
Ketika matahari mulai bergeser ke barat dan waktu beranjak sore, warga akan memasukkan kembali kasur mereka ke dalam kamar dengan rapi.
Prosesi ini menandai bahwa rumah mereka telah bersih dan siap untuk menyambut lembaran baru kehidupan dengan energi yang lebih positif, segar, dan penuh berkah.
Keberhasilan masyarakat Osing dalam mempertahankan tradisi ini di tengah gempuran modernisasi dan tren perlengkapan rumah tangga serba instan mengundang decak kagum banyak pihak.
Di saat banyak kebudayaan lokal mulai luntur tergerus zaman, ritual jemur kasur ini justru tetap hidup dan dipraktikkan secara aktif oleh generasi muda mereka.
Pemerintah daerah setempat bersama para tokoh adat kini juga terus berkomitmen untuk menjaga dan mempromosikan tradisi Mepe Kasur ini sebagai salah satu daya tarik wisata budaya yang potensial di Banyuwangi.
Ritual unik ini dinilai mampu menunjukkan identitas asli masyarakat Osing yang komunal, bersih, serta menghargai nilai-nilai leluhur.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Banyuwangikab.go.id