INDOZONE.ID - Denmark secara konsisten berhasil menduduki peringkat sebagai salah satu negara paling bahagia di dunia karena fondasi budayanya yang unik.
Rahasia besar di balik kesejahteraan mental dan kepuasan hidup masyarakatnya ternyata terletak pada sebuah konsep hidup yang disebut sebagai Hygge.
Gaya hidup yang diucapkan sebagai "hoo-ga" ini berfokus pada upaya menciptakan atmosfer yang hangat serta menikmati hal-hal kecil dalam hidup bersama orang-orang terdekat.
Bagi kamu yang sering merasa jenuh dengan hiruk-pikuk rutinitas harian, memahami filosofi kenyamanan ini bisa menjadi oase yang menyegarkan pikiran.
Baca juga: Dari Pengabdian Yang Menjadi Nilai Ibadah, PNM Berangkatkan Ratusan Karyawan ke Tanah Suci
Konsep ini mengajarkan masyarakat untuk tidak mengeluh saat menghadapi situasi sulit, melainkan mengubahnya menjadi momen yang menyenangkan.
Mari kita bedah lebih dalam bagaimana masyarakat Denmark menerapkan konsep ini dan apa saja hal yang justru bertentangan dengan prinsip kebahagiaan mereka.
Hygge Lifestyle
Masyarakat Denmark mempraktikkan filosofi ini sepanjang tahun dengan cara menyesuaikan diri terhadap perubahan musim yang terjadi di negara mereka.
Ketika musim dingin yang panjang dan gelap tiba di bulan Desember, kamu akan melihat jalanan Copenhagen dipenuhi ribuan lampu romantis serta warganya yang asyik membaca buku di kafe sambil menikmati cokelat panas.
Baca juga: Perbandingan Psikiater BPJS dan Umum: Biaya, Layanan, dan Waktu Tunggu
Demi menciptakan suasana hangat di dalam rumah, warga di sana rata-rata membakar hingga enam kilogram lilin aromaterapi per orang setiap tahunnya.
Sementara saat musim panas tiba, mereka mengaplikasikan konsep ini dengan cara bersepeda keliling kota, menonton konser, hingga mengadakan piknik dan barbeque santai bersama kerabat di taman terbuka.
Bukan Hygge Lifestyle
Bermain smartphone sepanjang hari
Berdiam diri di kamar sambil menatap layar gawai selama berjam-jam ternyata merupakan tindakan yang sangat bertentangan dengan esensi utama budaya ini.
Kunci utama dari kebahagiaan ala Denmark adalah memutuskan hubungan sejenak dari dunia maya demi bisa menikmati momen yang sedang berjalan saat ini secara utuh.
Baca juga: Dilema Kafein: Pahami Dampak Baik dan Buruk Konsumsi Kopi Harian bagi Tubuh Kamu
Oleh karena itu, kamu perlu meletakkan ponselmu agar bisa membangun kedekatan emosional yang nyata dengan lingkungan sekitar.
Hidup mengejar target atau terlalu banyak aturan
Budaya ini sangat menjunjung tinggi nilai kesederhanaan, kebebasan, serta kelonggaran hidup tanpa harus dikejar oleh kecemasan yang berlebihan.
Kebiasaan terlalu ketat dalam mengatur segala hal, seperti menghitung kalori secara berlebihan setiap kali makan, justru akan merusak esensi kebahagiaan kamu.
Kamu didorong untuk menikmati makanan dan kebebasan hidup dengan santai tanpa perlu merasa tertekan oleh aturan yang kaku.
Membeli barang hanya untuk terlihat gaya
Mengoleksi barang-barang mewah demi mendapatkan pujian atau terlihat keren di mata orang lain bukanlah cerminan dari filosofi hidup ini.
Konsep ini lebih mengutamakan pembentukan suasana hati yang damai dan kehangatan personal daripada dikelilingi oleh kemewahan materi yang semu.
Kamu akan memahami bahwa kenyamanan sejati lahir dari rasa syukur atas kesederhanaan, bukan dari gengsi memamerkan kekayaan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Ehef.id, Ehef.id