Ilustrasi lasik mata (freepik.com)
INDOZONE.ID - Lepas dari kacamata atau softlens dalam sekali tindakan? Kedengarannya seperti solusi instan yang sulit ditolak. Tidak heran jika LASIK menjadi salah satu prosedur mata paling populer.
Namun, sebelum buru-buru mendaftar, ada satu hal penting: LASIK bukan tanpa risiko, dan tidak semua orang cocok menjalaninya.
LASIK (Laser-Assisted In Situ Keratomileusis) adalah prosedur yang menggunakan laser untuk mengubah bentuk kornea agar cahaya bisa masuk ke mata dengan lebih tepat. Hasilnya, penglihatan bisa menjadi lebih jelas tanpa bantuan kacamata.
Prosesnya juga relatif cepat, sekitar 10–15 menit per mata. Banyak orang bahkan bisa kembali beraktivitas ringan setelahnya.
Namun, justru karena terdengar simpel, banyak yang menganggap remeh efek jangka panjangnya.
Baca juga: Kenapa Operasi Lasik Mata Capai Puluhan Juta? Ini Penjelasan Ahli
Banyak orang berharap setelah LASIK, penglihatan akan kembali 100 persen normal. Faktanya, tidak sedikit yang masih membutuhkan kacamata, terutama untuk membaca atau berkendara di malam hari.
Selain itu, LASIK tidak menghentikan proses penuaan mata, sehingga gangguan penglihatan tetap bisa muncul seiring waktu.
Artinya, harapan “sekali operasi, beres seumur hidup” tidak selalu sesuai kenyataan.
Ilustrasi lasik mata. (Freepik)
Ini yang sering terlewat. LASIK memiliki syarat medis yang cukup ketat. Beberapa kondisi yang membuat seseorang tidak disarankan menjalani prosedur ini antara lain:
Menurut Food and Drug Administration (FDA), pasien harus melalui seleksi ketat karena risiko dapat meningkat pada kondisi tertentu.
Bukan untuk menakut-nakuti, tetapi ini hal yang sering kurang disorot:
Baca juga: Ternyata Mata Bisa Kembali Minus Meski Sudah Operasi LASIK
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Discovermagazine.com