Suborno Isaac Bari Prodigy Child (cbsnews.com)
INDOZONE.ID - Bayangkan ketika teman seusiamu masih mengerjakan PR matematika kelas menengah, dia sudah berdiri di depan kelas universitas memberi kuliah kalkulus.
Itulah kisah Suborno Isaac Bari, seorang bocah prodigy matematika berusia 13 tahun yang kini menjadi instruktur kalkulus di New York University (NYU).
Baca juga: Theodore Kwan, Bocah Prodigy 7 Tahun yang Bikin Rekor Kuliah Kimia di NTU dan Raih Nilai A di IGCSE
Suborno menunjukkan tanda-tanda keistimewaan sejak sangat dini. Ketika anak-anak kebanyakan masih belajar berhitung dasar, ia sudah asyik menjelajahi bilangan, pola, dan konsep matematika lebih dalam dari usia sebaya.
Di lingkungannya, orang menyadari kalau kemampuannya bukan biasa-biasa saja. Suborno cepat memahami teori-teori abstrak dan mampu menyelesaikan soal-soal lanjutan yang di luar jangkauan anak sebayanya.
Dengan kemampuan itu, ia gak menunggu masa remaja atau masa kuliah untuk menunjukkan potensinya. Ia melompat menyusuri jenjang akademik bahkan sebelum sebagian besar orang seusianya menyadari arah masa depan mereka.
Saat masih berada di sekolah menengah, Suborno sudah menyelesaikan kurikulum dengan cepat dan mencetak nilai tinggi pada kursus Advanced Placement (AP). Keberhasilan ini membuka akses ke pendidikan tinggi secara awal.
Ia memasuki dunia kampus lebih awal daripada orang yang biasanya tiba setelah lulus SMA, dan pilihan matanya jatuh pada matematika dan fisika bidang di mana logika, kecerdasan abstrak, dan daya analisis jadi kunci.
Tapi yang paling mencengangkan ketika di usia 13, ia telah dipercaya mengajar kalkulus di NYU. Bukan sebagai asisten biasa, melainkan sebagai instruktur yang secara mandiri menyiapkan dan menyampaikan kuliah kepada mahasiswa dewasa.
Suborno Isaac Bari saat sedang mengajar. (cbsnews.com)
Ia berada di tengah atmosfer akademik tinggi, berdiskusi dengan rekan-rekan yang bahkan jauh lebih tua darinya. Terkadang batasan usia sering kali bersifat psikologis.
Jika kamu punya kelebihan di satu bidang entah matematika, seni, sains, atau teknologi maka jalani dengan tekun dan cermat.
Baca juga: Aiden Wilkins, Bocah Prodigy 9 Tahun yang Belajar Ilmu Syaraf di Ursinus College
Mulailah berbagi ide, mengajar sedikit demi sedikit, agar kamu gak hanya memahami, tapi juga menginternalisasi kemampuanmu. Jangan takut untuk berdiskusi dengan orang lebih tua atau mencari mentor.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Tribune.com.pk