Ilustrasi Hubungan yang Ghosting. (photo/freepik)
INDOZONE.ID - Ghosting mungkin terdengar seperti istilah kekinian, tapi prakteknya sudah lama ada.
Intinya sederhana: seseorang yang sebelumnya intens berkomunikasi tiba-tiba menghilang tanpa alasan.
Chat berhenti dibalas, telepon tak diangkat, dan hubungan seolah lenyap begitu saja.
Bagi yang ditinggalkan, efeknya bisa berat — mulai dari cemas, overthinking, stres, sampai mempertanyakan harga diri sendiri.
Fenomena ini makin sering terjadi, terutama di kalangan anak muda dan dalam hubungan romantis.
Baca juga: 5 Arti Mimpi Diperkosa Menurut Psikologi dan Maknanya
Namun jangan salah, ghosting juga kerap muncul di lingkup pertemanan, keluarga, komunitas, bahkan dunia kerja.
Dampaknya pun tak main-main: kondisi emosional terganggu, rasa aman runtuh, hingga berimbas ke stabilitas sosial dan finansial.
Tak semua hubungan yang merenggang adalah ghosting.
Ada kalanya dua orang perlahan menjauh karena faktor hidup — pindah kota, pekerjaan baru, atau prioritas yang berubah. Itu wajar dan masih bisa dipahami.
Ghosting sangat berbeda. Ini adalah pilihan sadar untuk memutus komunikasi tanpa empati dan kejelasan.
Baca juga: Metode Penelitian Kualitatif: Pengertian, Jenis, dan Contohnya
Di sinilah lukanya terasa lebih dalam, karena perpisahan terjadi tanpa penutupan yang sehat.
Ghosting sering meninggalkan hubungan dalam posisi menggantung. Tidak jelas apakah masih ada peluang memperbaiki atau harus benar-benar ditutup.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Psychologytoday.com