Ilustrasi patah hati karena putus cinta (freepik/jcomp)
INDOZONE.ID - Putus cinta kerap menjadi pengalaman yang cukup berat dan meninggalkan luka yang tidak sebentar untuk pulih.
Dalam situasi seperti ini, setiap orang biasanya akan mencari cara untuk meredakan gejolak perasaan yang dirasakan.
Cara tersebut dikenal sebagai coping mechanism, yaitu bentuk respons alami dalam menghadapi tekanan emosional. Berikut lima bentuk coping mechanism yang paling sering muncul setelah seseorang mengalami patah hati.
Baca juga: Lebih Capek dari Putus Cinta, Ini Alasan Situationship Bikin Mental Terkuras
Ilustrasi pasangan putus cinta. (elitedaily.com)
Setelah putus cinta, banyak orang memilih untuk menyibukkan diri dengan berbagai kegiatan, mulai dari pekerjaan, aktivitas sosial, hingga rutinitas harian yang padat. Hal ini dilakukan untuk mengalihkan pikiran dari rasa kehilangan dan kenangan yang masih terasa menyakitkan.
Dalam jangka pendek, cara ini memang membantu mengurangi beban emosional karena perhatian teralihkan. Namun jika dilakukan secara berlebihan, emosi yang tidak diproses justru bisa tertahan dan muncul kembali di kemudian hari.
Karena itu, penting untuk tetap aktif sambil tetap memberi ruang bagi diri sendiri untuk merasakan dan memahami emosi.
Baca juga: 5 Alasan Putus Cinta di Era Digital Terasa Lebih Menyakitkan, Ada yang Relate?
Banyak orang memilih untuk menghindari segala sesuatu yang berkaitan dengan mantan pasangan, seperti menghapus foto, berhenti mengikuti akun media sosial, atau menjauhi tempat-tempat yang penuh kenangan.
Langkah ini dilakukan agar tidak terus teringat pada masa lalu yang menyakitkan. Namun jika dilakukan secara ekstrem, hal tersebut bisa membuat emosi tidak benar-benar terselesaikan.
Menerima bahwa kenangan itu pernah menjadi bagian dari perjalanan hidup merupakan langkah penting dalam proses pemulihan diri.
Media sosial sering menjadi tempat pelampiasan perasaan setelah putus cinta. Tidak sedikit orang yang membagikan ungkapan sedih, lagu galau, atau menjadi lebih aktif dari biasanya untuk mengekspresikan emosinya.
Sayangnya, terlalu larut dalam dunia digital justru bisa memperpanjang proses penyembuhan. Melihat aktivitas mantan atau membandingkan diri dengan orang lain dapat membuat kondisi emosional semakin tidak stabil.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Timesofindia.indiatimes.com