Ilustrasi gagal tiket konser (Instagram/bts.bighitofficial)
INDOZONE.ID - War ticket kini menjadi bagian dari budaya penggemar. Mulai dari antrian virtual yang panjang, sistem rebutan dalam hitungan detik, hingga situs yang mendadak error, semuanya bisa menjadi pengalaman yang menguras emosi.
Tak heran, banyak orang merasa sangat kecewa saat gagal mendapatkan tiket konser idola mereka.
Bahkan, tidak sedikit yang mengaku sedih, menangis, kehilangan semangat, hingga sulit berhenti memikirkan momen yang terlewat tersebut.
Meski sering dianggap berlebihan oleh sebagian orang, para ahli menyebut perasaan itu sebenarnya wajar dan valid.
Baca juga: Pengaruh Pikiran dan Perasaan pada Kesehatan Mental: Yuk Pahami Keterkaitannya!
Menurut psikolog klinis dan peneliti emosi, rasa kecewa muncul ketika harapan yang sudah dibangun sebelumnya tidak sesuai dengan kenyataan.
Dalam psikologi, kondisi ini dikenal sebagai disconfirmed expectations, yaitu saat ekspektasi yang sudah terbentuk gagal terpenuhi sehingga memunculkan emosi negatif seperti sedih, marah, atau frustrasi.
Sebelum hari penjualan tiket, banyak penggemar sudah membayangkan berbagai hal, mulai dari menyaksikan penampilan idolanya secara langsung, bernyanyi bersama ribuan orang, hingga menciptakan kenangan yang mungkin hanya terjadi sekali seumur hidup.
Ketika tiket gagal didapatkan, yang hilang bukan hanya kesempatan menonton konser, tetapi juga pengalaman dan harapan yang sudah lama dibangun.
Fenomena ini juga berkaitan dengan Fear of Missing Out (FOMO) atau rasa takut ketinggalan dari pengalaman yang dinikmati orang lain.
Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Computers in Human Behavior menemukan bahwa FOMO dapat meningkatkan perasaan cemas, sedih, dan ketidakpuasan ketika seseorang merasa kehilangan kesempatan untuk ikut dalam sebuah pengalaman sosial yang dianggap penting.
Di era media sosial, perasaan tersebut bisa semakin kuat. Setelah gagal mendapatkan tiket, seseorang biasanya akan melihat unggahan teman atau pengguna lain yang berhasil membelinya.
Tanpa disadari, kondisi itu dapat memicu perbandingan sosial dan membuat rasa kecewa menjadi semakin besar.
Jadi, wajar aja kalo sedih. Psikolog menyebut bahwa mengakui dan menerima emosi yang muncul merupakan langkah yang lebih sehat dibandingkan memaksa diri untuk langsung melupakan atau mengabaikannya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: American Psychological Association, Cleveland Clinic