photo/Ilustrasi/vapingdaily.com
Sudah pernahkah kamu mendengar atau tau tentang istilah helicopter parenting? Kalau belum, kali ini Indozone akan membahas seputar pola asuh helicopter parenting, ciri-cirinya, dan dampaknya pada anak.
Pola asuh helicopter parenting adalah sebuah metode pengasuhan di mana orang tua terlalu banyak mengatur atau memperhatikan berbagai aspek kehidupan anak secara berlebihan. Kata helicopter diartikan sebagai orang tua yang selalu 'terbang di atas kepala anak' dan mengawasi setiap tindakan anak.
Istilah helicopter parenting ini mulai populer di awal tahun 2000. Ketika itu, banyak perguruan tinggi di Amerika mendapat keluhan dari orang tua mahasiswa karena nilai anak-anaknya rendah.
Memang, orang tua yang menerapkan pola pengasuhan ini tidak akan membiarkan anaknya merasa sedih, kecewa, marah, atau mengalami kegagalan. Orang tua pun bertindak seperti asisten pribadi anak. Segala sesuatunya telah disiapkan dan dipilihkan orang tua, mulai dari hal kecil seperti makanan dan pakaian, sampai urusan pendidikan dan lainnya.
Seorang pakar psikologi Amy Morin mengatakan anak-anak yang diasuh dengan pola helicopter parenting akan menghadapi berbagai masalah ketika dewasa. Semakin beranjak dewasa, si anak akan menjadi pribadi yang tidak mandiri dan selalu bergantung pada orang tua.
Menurut Ann Dunnewold Ph. D. dalam buku Even June Cleaver Would Forget the Juice Box, calls it Overparenting menyebutkan bahwa helicopter parenting merupakan pola asuh orang tua yang mengarah kepada overcontrolling, overprotecting, dan overperfecting. Bahkan, sejumlah studi mengatakan pola asuh ini memberi dampak negatif pada pengelolaan emosi dan perilaku anak.
Sebagai orang tua pasti ingin memberikan pola pengasuhan yang terbaik bagi anak. Namun, tidak semua pola pengasuhan itu baik untuk diterapkan. Salah satu yang tidak disarankan adalah pola asuh helicopter parenting. Berikut ini ciri-cirinya:
Seperti yang dijelaskan sebelumnya, penerapan pola asuh helicopter parenting ini akan berdampak buruk pada tumbuh-kembang anak, terlebih dari sisi psikologis anak. Berikut ini beberapa dampak helicopter parenting pada anak:
1. Sulit Mengatur Emosi dan Mudah Depresi
Anak-anak yang tumbuh dari pola asuh helicopter parenting akan sulit mengatur emosi. Studi yang dilakukan University of Mary Washington menemukan fakta bahwa anak-anak yang diasuh dengan metode helicopter parenting cenderung mengalami depresi dan merasa tidak puas dengan kehidupannya.
2. Kesehatan Anak Bermasalah
Penelitian dari Florida State University mengungkapkan anak-anak yang diasuh dengan metode helicopter parenting biasanya memiliki masalah kesehatan ketika beranjak dewasa. Ini dikarenakan orang tua terlalu mengatur semua jadwal anak, mulai dari tidur, makan, olahraga, dan lainnya.
3. Lebih Manja dan Kurang Percaya Diri
Pola asuh helicopter parenting' membuat anak jadi lebih manja, karena segala sesuatunya sudah dipersiapkan oleh orang tua. Sehingga, si anak tidak pernah berusaha untuk menyelesaikan urusannya sendiri, termasuk hal-hal sederhana di rumah. Anak-anak dengan pola asuh ini pun cenderung sulit bersosialisasi dengan orang baru.
4. Kurang Kreatif
Apapun yang terlalu dikekang, tentu akan membatasi kreativitas seseorang. Begitu juga dengan pola asuh helicopter parenting ini. Anak-anak akan malas berpikir atau berinisiatif pada sesuatu hal di sekitarnya. Karena itulah, ketika anak beranjak dewasa, ia kurang terampil dan tingkat kreativitas cenderung lemah dibandingkan teman-teman seusianya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: