Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Rabu, 11 MEI 2022 • 15:21 WIB

Sosok Alin Pangalima, Mahasiswi yang Mau Jual Ginjal demi Bangun Jembatan di Desanya

Sosok Alin Pangalima, Mahasiswi yang Mau Jual Ginjal demi Bangun Jembatan di DesanyaAlin Pangalima, mahasiswi yang mau jual ginjalnya untuk biaya pembangunan jembatan yang tak kunjung dibangun selama 16 tahun. (Facebook/Alin Pangalima)

Seorang mahasiswi di Desa Goyo, Kecamatan Bolangitang Barat, Kabupaten Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara, menyita perhatian publik setelah melakukan unjuk rasa bersama beberapa temannya, terkait kondisi jembatan di desanya yang dibiarkan mangkrak selama 16 tahun.

Mahasiswi tersebut bernama Alin Pangalima. Ia adalah mahasiswi IAIN Sultan Amai Gorontalo yang aktif menyorot isu-isu sosial dan aktif dalam gerakan literasi.

Di akun Facebook-nya dan berbagai forum, Alin sudah kerap menyuarakan keinginannya agar jembatan di desanya diperbaiki. Namun, sampai sekarang, jembatan yang diberi nama sesuai nama desanya itu tak juga diperbaiki.

Alin Pangalima, mahasiswi yang mau jual ginjalnya untuk biaya pembangunan jembatan yang tak kunjung dibangun selama 16 tahun. (Facebook/Alin Pangalima)

Bahkan ketika ada demonstrasi besar-besaran, aspirasi yang disampaikannya tetap soal Jembatan Goyo.

Puncaknya, pada 6 Mei 2022, Alin bersama beberapa temannya menggelar aksi yang mengundang perhatian. Meski hanya dilakukan oleh beberapa orang, nyatanya apa yang mereka lakukan cukup bergema.

Hal itu tidak terlepas dari tulisan yang mereka bentangkan pada poster yang bawa di lokasi jembatan. Ia menyatakan niat untuk jual ginjal untuk biaya pembangunan jembatan itu.

"Saya mau jual ginjal untuk pembangunan jembatan Goyo #savegoyo," demikia tulisan pada poster yang ia bentangkan di lokasi jembatan yang mangkrak.

"Soalnya dana daerah katanya ndak cukup untuk membiayai pembangunan jembatan yang sudah 16 tahun mangkrak. Mungkin 'ginjal' saya bisa sedikit membantu," tulisnya pada keterangan foto yang ia unggah di Facebook.

Alin Pangalima, mahasiswi yang mau jual ginjalnya untuk biaya pembangunan jembatan yang tak kunjung dibangun selama 16 tahun. (Facebook/Alin Pangalima)

Selain dia, beberapa temannya juga membentangkan poster yang sama di lokasi yang sama.

"Torang butuh tambahan ginjal, barangkali ada relawan yang mau menyumbangkan 'ginjal'nya untuk pembangunan jembatan," tulisnya.

Alin pun menjelaskan kenapa Jembatan Goyo di desanya harus dibangun, sembari mengunggah video ekstremnya medan yang harus dilalui warga ketika hujan deras terjadi dan air sungai meluap.

"Pertama, ketika terjadi banjir dan sungai meluap, maka akses penghubung antara Ollot dan Goyo akan seekstrem ini. Bayangkan jika ada orang yang lagi kena sial terus masuk ke dalam sungai lalu tengelam dan meninggal, siapa yang bertanggung jawab?" tulisnya.

Berikut alasan lengkap yang dipaparkan Alin, sebagaimana dikutip Indozone dari unggahannya di Facebook.

Kedua, biaya yang harus dikeluarkan untuk menyeberang sungai lewat rakit. Saat sungai normal, biayanya Rp3.000 sekali lewat. Bayangkan masyarakat berapa kali lewat dalam sebulan di tempat ini. 

Apalagi masyarakat Bolangitang dan sekitarnya ada juga yang berkebun di seberang sungai, maka bisa dipastikan biaya yang mereka keluarkan 6.000 rupiah per hari, yang jika rutin ke kebun dan dijumlahkan dalam sebulan menelan biaya yang cukup untuk membeli beras untuk dimakan sepekan. Jumlahkan saja berapa totalnya.

Belum lagi jika sungai sedang banjir dan air meluap bagaikan janji Pemda, biayanya jadi berlipat ganda, 10.000 rupiah sekali lewat, dengan risiko yang cukup tinggi. Bayangkan jika datang musim penghujan, berapa biaya yang harus dikeluarkan. Sedangkan penghasilan masyarakat rata-rata memprihatinkan (soalnya kita rasa sandiri).
Kedua, mengingat tiang jembatan yang sudah "tatono" selama kurang lebih 16 tahun lamanya, bahkan sebelum Bolmut menjadi daerah otonom baru di Sulawesi Utara. Sangat disayangkan jika pemerintah terus mempertontonkan kegagalan di tengah masyarakat, dengan dalih "nanti, nanti, nanti".

Ketiga, banyaknya kecelakaan ketika melewati sungai saat sedang hujan maupun tidak menjadikan jembatan memang layak diperjuangkan. Saya pun menyaksikan sendiri betapa kejadian kecelakaan itu terjadi di depan mata. Mungkin bisa ditanyakan kepada yang bertugas menyeberangkan kendaraan, berapa korban yang sudah "tabulengkar" di situ.
Keempat, karena jembatan yang hampir dimuseumkan itu, menjadikan Goyo menjadi lebih tertinggal daripada dusun lainnya. Saya kadang iri dengan Pangkusa yang meski di pedalaman dan sulit jaringan, tapi ada jembatannya. Indah pula. 

Ketertinggalan itu membuat siapapun yang pernah menginjakkan kaki langsung di tanah Goyo, akan tahu bagaimana sulitnya masyarakat. Karena seperti yang kita tahu bersama, bahwa bukan hanya jembatan yang terbengkalai, tapi jalan juga yang belum diaspal sepenuhnya membuat masyarakat menjadi berlipat ganda kesulitannya.
Yang jika orang hamil muda lewat secara terus menerus di jalan Goyo itu, pasti akan mengalami keguguran atau bahkan lahir prematur. Juga banyaknya kecelakaan yang terjadi menjadikan ini sekali lagi layak diusut tuntas. Sangat disayangkan sekali. 

Dan kabar baiknya, semoga tahun ini jalan "spanggal" itu akan diteruskan pembangunannya. Jika tidak, som ba demo jo dg.
Yang lainnya nanti saya jelaskan di tulisan lain. So isya kwa.

Salam akal sehat.

Artikel Menarik Lainnya:

Pilu! Hasil Jual Motor Tak Cukup, Driver Ojol Ini Nekat Jual Ginjal Demi Pengobatan Anak

Perkenalkan 'Desa Satu Ginjal' di Afghanistan, Terpaksa Jual Ginjal Untuk Bertahan Hidup

Sosok Farhiyatun Naini, Ibu 3 Anak yang Jual Ginjal Demi Bayar Utang, Tak Pernah Dapat BLT

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

BERITA TERBARU

Sosok Alin Pangalima, Mahasiswi yang Mau Jual Ginjal demi Bangun Jembatan di Desanya

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!