Gamelan diminati mahasiswa Ekuador (Z Creators/Helene Le Quellec)
Gending gamelan mengalun merdu di Universidad de las Artes (UA) yang berlokasi di Guayaquil, Ekuador, pada 21-23 November 2022 lalu. Buat warga Indonesia, alunan musik gamelan mungkin terdengar biasa saja. Tapi buat warga Ekuador, ini istimewa. Apalagi penabuhnya adalah warga Ekuador itu sendiri.
Merdunya suara gamelan khas Indonesia tersebut mengalun dalam Festival Universos Sonoros. Di acara ini, Indonesia hadir sebagai peserta asing bersama Columbia dan Mexico.
Acara tersebut menjadi puncak perjalanan panjang musik gamelan di Ekuador, dengan menandatangani kesepakatan kerja sama seni budaya antara Dubes RI untuk Ekuador, Agung Kurniadi dan Rektor UA Dr. William Herrera.
Rupanya ada peranan Agung Kurniadi, Duta Besar RI di Ekuador yang mengenalkan alat musik tradisional ini di Ekuador.
Berawal saat pertama kali berkantor di KBRI Quito 2 tahun lalu, Agung melihat seperangkat instrumen gamelan yang sudah lama enggak terpakai karena enggak ada yang bisa memainkan dan melatih.
Kendala ini karena Diaspora Indonesia hanya 58 orang, yang terdiri dari staf KBRI dan keluarga, rohaniwan, dan 3 WNI yang menikah dengan warga setempat.
Agung Kurniadi berpikir keras bagaimana biar musik gamelan bisa diterima warga Ekuador.
Langkah pertama adalah mengundang ahlinya yaitu Joko Ngadimin, asal Sukoharjo, Solo. Joko Ngadimin akhirnya datang ke Quito, Ekuador, Oktober 2021. Ia kemudian mengajarkan musik gamelan kepada staf KBRI dan masyarakat Indonesia maupun Ekuador. Pelatihan dilakukan dua kali seminggu dengan durasi 6 bulan. Hingga terbentuklah tim inti sebanyak 12 orang dari staf KBRI.
Usaha memotivasi para pengrawit berlanjut dengan adanya kerja sama pementasan antara KBRI Ekuador dan Universitas San Francisco de Quito (USFQ). Penampilan perdana pada Maret 2022 di USFQ sukses memikat mahasiswa untuk mengenal musik gamelan.
Jalan keluar mempromosikan musik gamelan agar dikenal lebih luas oleh masyarakat tanpa mengeluarkan dana yang cukup besar adalah mencari mitra reliable.
Kerja sama yang berlangsung dengan institusi di Ekuador yaitu Universidad de las Artes (UA) yang fokus pada pengajaran seni.
Inti kesepakatannya adalah UA mencantumkan pelajaran gamelan dalam kurikulum mata kuliah etnomusikologi yang akan dibuka Februari 2023. KBRI meminjamkan perangkat gamelan selama 3 tahun dan menghadirkan pengajar gamelan secara offline maupun online.
Sebelum sampai di Guayaquil, pada November 2022, KBRI diundang sebagai tamu di Cultural Semana de Indonesia. Para pengrawit tampil di Universidad Tumbaco de Ambato (UTA).
Indonesia juga menampilkan pemutaran film, dan kuliah umum. Setelah satu bulan belajar dengan Joko Ngadimin, pengrawit yang terdiri dari mahasiswa dan pengajar UA tampil berkolaborasi dengan musik tradisional Ekuador, Marimba.
Alunan dua musik tradisional terdengar begitu indah dan harmonis.
Pada akhirnya, perangkat dan musik gamelan menemukan “rumah” barunya selama 3 tahun ke depan.
Sebuah awal dari gaung dan alunan musik gamelan di bumi Ekuador.
Artikel Menarik Lainnya:
Kacau! Baru Sehari Diresmikan Masjid Al Jabbar Bandung Sudah Penuh Sampah
6 Tips Liburan Hemat di Singapura buat Pemula, Low Budget tapi Happy Maksimal!
Catat! Itinerary Wisata Low Budget 4 Hari di Istanbul, Kemana Aja?
Ajaib! Sumber Air di Magetan Enggak Pernah Kering, Airnya Bisa Langsung Diminum
Tahun Baruan Unik ala Warga Turki, Nungguin Menang Lotre Rp167 Miliar!
Bikin cerita serumu dan dapatkan berbagai reward menarik! Let’s join Z Creators dengan klik di sini.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: