Ilustrasi janggut sarang bakteri. (Pinterest)
INDOZONE.ID - Janggut sering dianggap identik dengan penampilam maskulin dan dewasa.
Namun di balik tren brewok yang semakin populer, muncul anggapan bahwa janggut merupakan sarang bakteri dan lebih kotor dibanding rambut kepala.
Gak sedikit pria akhirnya khawatir memelihara janggut. Tapi, benarkan janggut memang jadi sarang bakteri?
Faktanya, dalam dunia medis, selama dirawat dengan benar janggut selalu lebih kotor dibanding area tubuh lainnya.
Baca juga: Dear Pria, Inilah Kiat-kiat Merawat Janggut Biar Tetap Keren
Jawabannya, ya. Namun, bukan berarti langsung berbahaya.
Kulit manusia secara alami memiliki mikroorganisme atau mikrobioma, termasuk bakteri baik dan jamur dalam jumlah tertentu.
Penelitian menunjukkan bahwa area rambut memang jadi tempat hidup berbagai mikroorganisme alami pada kulit.
Artinya, keberadaan bakteri di janggut sebenarnya normal, sama seperti pada rambut kepala atau kulit wajah.
Mitos ini muncul karena janggut sering meninggalkan sisa makanan, minyak kulit, debu, keringat, hingga sel kulit mati.
Jika jarang dibersihkan, kondisi lembab pada rambut wajah memang bisa menjadi tempat berkembangnya bakteri tertentu.
Penelitian menemukan bahwa pertumbuhan bakteri lebih tinggi di janggut, dibandingkan wajah tanpa rambut.
Namun para ahli dermatologi menegaskan bahwa masalah utamanya bukan pada janggutnya, melainkan kebiasaan kebersihan si pemilik janggut.
Menariknya, tidak semua bakteri di janggut bersifat buruk. Beberapa studi bahkan menemukan adanya mikroorganisme yang dapat membantu melawan bakteri lain.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Nationalgeographic.grid.id