Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Selasa, 02 JUNI 2026 • 17:05 WIB

Terlalu Baik ke Orang Lain Ternyata Bisa Berdampak Buruk bagi Kesehatan

Terlalu Baik ke Orang Lain Ternyata Bisa Berdampak Buruk bagi KesehatanIlustrasi terlalu baik ke orang lain ternyata berdampak buruk ke kesehatan (Bustle)

INDOZONE.ID - Siapa sangka, sikap yang selama ini dipuji banyak orang justru bisa membawa efek samping bagi kesehatan. 

Dalam buku The Myth of Normal: Trauma, Illness, and Healing in a Toxic Culture yang ditulis oleh Dr. Gabor Maté, terdapat penjelasan mendalam mengenai kenapa menjadi orang yang terlalu baik dapat meningkatkan risiko penyakit kronis.

Berdasarkan pengalamannya selama puluhan tahun sebagai psikiater, Dr. Gabor Maté menemukan bahwa pasien-pasien yang mengidap penyakit kronis, seperti autoimun, kanker, multiple sclerosis, hingga fibromyalgia, seringkali memiliki kepribadian yang sama, yakni sangat baik, jarang marah, dan selalu mendahulukan kebutuhan orang lain di atas kebutuhannya sendiri.

Baca juga: Sosok yang Terlalu Baik Sampai Terkadang Lupa Diri, Sisi Tersembunyi ESFJ yang Jarang Diketahui

1. Hubungan Pikiran dan Tubuh

Dr. Maté menekankan bahwa kedokteran modern sering kali salah karena memisahkan antara kesehatan mental dan fisik. 

Padahal, sistem saraf, sistem imun, dan sistem hormon manusia itu saling terhubung.

Ketika kamu menekankan emosi demi menjaga kedamaian di luar, tubuh akan merasakan tekanan tersebut secara biologis. 

2. Penekanan Emosi

Orang yang terlalu baik cenderung menolak atau menyembunyikan emosi yang dianggap negatif, seperti marah, sedih, atau kecewa, agar tidak merepotkan orang lain. 

Padahal, marah yang sehat adalah sistem pertahanan alami untuk melindungi batasan diri. Ketika kemarahan itu ditekan secara terus-menerus, energi stres tidak hilang melainkan berbalik menyerang tubuh sendiri.

Hal inilah yang memicu peradangan kronis yang lambat laun merusak organ dan jaringan tubuh. 

3. Konflik antara Kelekatan dan Keotentikan

Sejak kecil, manusia memiliki dua kebutuhan dasar, yakni attachment (kebutuhan untuk dicintai) dan authenticity (kebutuhan untuk menjadi diri sendiri). 

Banyak orang belajar sejak kecil bahwa jika mereka mengekspresikan kemarahan atau menolak kemauan orang tua, mereka akan kehilangan kasih sayang.

Akhirnya, mereka mengorbankan keotentikan demi bisa diterima. Kebiasaan ini terbawa hingga dewasa dan menciptakan perilaku people-pleasing yang kronis. 

4. Tubuh Akhirnya Menolak

Ketika seseorang tidak mampu berkata "tidak", tubuh mereka yang akan mengambil alih tugas tersebut. 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Medium

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Terlalu Baik ke Orang Lain Ternyata Bisa Berdampak Buruk bagi Kesehatan

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!