Seorang pendaki bernama Andi Sulistyawan (18 tahun), warga Desa Kemuning, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar ditemukan meninggal dunia, saat mendaki Gunung Lawu bersama teman-temannya.
Andi ditemukan tak bernyawa dalam keadaan telanjang dada di kawasan Gunung Lau yang terletak di perbatasan Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah dan Kbupaten Magetan, Jawa Timur, Senin (6/7/2020).
Insiden nahas ini bermula saat seorang pendaki bernama Nurhayati hendak buang air kecil pada Minggu (5/7/2020) di puncak Gunung Lawu pukul 03.00 WIB. Dia kemudian membangunkan teman pendaki lainnya, namun tidak ada yang bangun.
Nurhayati yang melihat Andi di luar tenda, kemudian memintanya untuk menemani Nurhayati buang air kecil. Setelah selesai buang air kecil, Nurhayati tak melihat keberadaan Andi di sekitar lokasi.
Dia merasa Andi sudah kembali ke tenda duluan. Namun, hingga pagi hari, Andi tak juga ditemukan. Rekan-rekannya itu kemudian mencoba keberadaan Andi.
Mereka awalnya mengira bahwa Andi jatuh ke jurang, hingga mereka memutuskan untuk turun pada pukul 13.00 WIB untuk melaporkan kejadian tersebut. Namun rupanya, Andi bukan meninggal karena jatuh ke jurang melainkan diduga terkena hipotermia.
Hipotermia adalah sebuah kondisi tubuh yang tidak normal, atau tubuh mengalami kehilangan suhu panas, sehingga temperatur tubuh turun drastis. Seseorang yang mengalami hipotermia biasanya suhu tubuhnya di bawah 35C.
Kondisi ini terjadi saat tubuh kesulitan untuk mengatasi suhu dingin yang ada di sekitarnya. Karena terbilang berbahaya, penderita hipotermia harus mendapatkan penanganan secepatnya.
Hipotermia yang dialami oleh seorang pendaki gunung, biasanya disebabkan oleh sejumlah faktor, seperti cuaca, angin kencang, hujan, badai, kurangnya sinar matahari atau suhu lingkungan yang rendah.
Selain itu, ada pula faktor penyebab hipotermia lainnya, yaitu kondisi fisik pendaki yang lemah, kelembapan, kurang lengkapnya alat pendakian, pakaian yang basah dan kurangnya pengetahuan pendaki soal hipotermia dan cara mengatasinya.
Seseorang yang mengalami hipotermia, biasanya akan mengalami kondisi tubuh gemetar, frekuensi denyu nadi menurun, gangguan pernapasan, kulit pucat, badan dingin, respon menurun, gangguan bicara, pupil mata melebar dan penderita mengalami koma.
Ada berbagai cara untuk mencegah penyakit hipotermia. Mulai dari mempersiapkan kondisi fisik, membawa peralatan pendakian yang lengkap hingga memahami kondisi cuaca.
Mempersiapkan kondisi fisik, menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan oleh setiap pendaki. Sebelum mendaki, pastikan kondisi tubuh dalam keadaan sehat dan bugar. Sebab, kondisi tubuh yang lemah akan membuat tubuh jadi mudah terserang hipotermia.
Ada baiknya, sebelum melakukan pendakian, kamu harus memastikan bahwa peralatan yang dibawa terbilang lengkap. Mulai dari peralatan umum, pribadi hingga kebutuhan logistik.
Hal lainnya yang tak kalah penting ialah memahami kondisi cuaca. Ketika memutuskan untuk mendaki di musim hujan, jangan lupa bawa perlengkapan yang bisa melindungi diri saat hujan turun. Selain itu, lakukan pendakian pada pagi hari, agar tak terlalu terkena sengatan sinar Matahari.
Ketika ada seorang pendaki yang mengalami hipotermia, langsung bawa ia masuk ke dalam tenda. Jika pakaian yang digunakannya basah, cepat ganti dengan pakain kering dan hangat.
Saat pendaki dalam keadaan tak sadar, cobalah memberi kehangatan padanya dengan memegang tangannya atau memeluknya. Segeralah minta bantuan tim SAR agar korban bisa cepat ditangani.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: