Ilustrasi tindakan aborsi (newsbusters.org)
Praktik aborsi masih sangat banyak terjadi, termasuk di Indonesia. Aborsi merupakan tindakan menggugurkan kandungan dengan alasan kondisi tertentu, entah itu karena keguguran, kondisi kesehatan si ibu terancam, atau hamil di luar nikah yang dianggap sebagai aib.
Tindakan aborsi berisiko tinggi dan menimbulkan efek samping bagi wanita, jika tidak dilakukan oleh dokter ahli yang memiliki keahlian mumpuni.
Menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO) tindakan aborsi dikategorikan tidak aman, jika dilakukan oleh orang yang tidak memiliki pengetahuan atau keterampilan medis yang layak, termasuk fasilitas medis sesuai standar kesehatan.
Risiko dan bahaya aborsi ilegal bagi perempuan bisa berujung pada kematian. WHO mencatat, sebagian besar pelaku aborsi ilegal mengalami kehamilan yang tidak diinginkan, biasanya akibat hubungan seks di luar nikah.
Walau begitu, aborsi lewat jalur medis resmi maupun ilegal tetap berpotensi menyebabkan risiko dan bahaya aborsi yang serius dan harus disadari semua wanita sebelum benar-benar yakin akan melakukannya.
Meski pada dasarnya aborsi tidak disarankan, namun beberapa kondisi tertentu mengharuskan wanita untuk melakukan aborsi, apalagi jika itu berkaitan dengan kondisi kesehatan si wanita.
Aborsi bukanlah suatu keputusan yang mudah. Banyak pertimbangan disertai alasan kuat untuk meyakinkan diri akan aborsi. Efek samping aborsi yang dialami wanita termasuk salah satu pertimbangannya.
Kondisi kesehatan fisik dan psikologis si perempuan yang melakukan aborsi adalah ancaman nyata dari efek samping aborsi itu sendiri. Hingga yang terburuknya mengakibatkan kematian.
Berikut ini beberapa risiko dan efek samping aborsi, yang kemungkinan besar akan dialami perempuan setelah menggugurkan kandungan lewat jalur aborsi:
Kebanyakan perempuan akan mengalami pendarahan hebat setelah melakukan praktik aborsi. Ini merupakan efek aborsi serius yang biasa disertai demam tinggi dan gumpalan darah yang lebih besar dari ukuran bola golf.
Pendarahan hebat ini bisa berlangsung selama 2 jam atau bahkan lebih. Saking derasnya aliran darah itu, kamu sampai perlu mengganti pembalut lebih dari dua kali dalam satu jam, selama dua jam berturut-turut.
Dalam banyak kasus, salah satu risiko tinggi aborsi yaitu timbulnya infeksi parah di saluran tuba, rahim, dan panggul. Infeksi ini berlangsung selama 3 hari atau lebih.
Efek aborsi seperti infeksi ini biasanya disertai dengan kondisi-kondisi lain, seperti payudara yang terasa sangat sakit, kram perut, mual dan muntah, hingga kelelahan berlebihan.
Sakit kepala, nyeri otot, pusing, tidak enak badan, demam tinggi (di atas 38 derajat Celcius) termasuk juga tanda-tanda infeksi setelah aborsi.
Dari segi medis, infeksi parah akibat efek samping aborsi ini terjadi karena bagian leher rahim melebar selama proses aborsi. Akibatnya, bakteri dari luar mudah masuk ke dalam tubuh dan area vagina.
Proses aborsi yang tidak tuntas juga menjadi sebab terjadinya infeksi parah setelah aborsi pada wanita. Infeksi ini akan menimbulkan komplikasi serius pada area kewanitaan.
Komplikasi serius lainnya dari infeksi setelah aborsi berlanjut pada sepsis atau keracunan darah. Ini yang kemudian berlanjut pada risiko dan bahaya aborsi lainnya, sampai berpotensi mengancam nyawa.
Sepsis merupakan bahaya aborsi yang menyebabkan kematian. Gejala awalnya ditandai dengan kondisi sesak napas, suhu tubuh sangat tinggi, tangan dan kaki pucat, menggigil, kebingungan dan gelisah.
Tak hanya dari segi fisik, risiko pasca aborsi yang dialami wanita bisa mengarah pada kondisi psikologis dan mentalnya sendiri, seperti rasa bersalah, sedih, dan cemas.
Bermula dari perasaan itu, mereka yang aborsi sering mengalami stres hingga depresi akut. Gangguan mental dan psikologis ini berpotensi pada kondisi kesehatan.
Radang lapisan rahim atau endometritis terjadi karena infeksi. Inilah salah satu risiko, bahaya, serta efek samping aborsi yang dialami sebagian besar perempuan pasca aborsi, terutama yang masih usia remaja.
Sebuah laporan menyebutkan remaja perempuan rentang usia 20-29 tahun, 2,5 kali lebih mungkin mengalami endometritis daripada wanita usia lainnya.
Pendarahan hebat, infeksi parah, sepsis, gangguan psikologis dan peradangan lapisan rahim merupakan efek samping aborsi yang bisa meningkatkan risiko kematian pasca aborsi pada wanita.
Dalam banyak kasus di negara-negara maju maupun berkembang, kematian sebagai bahaya aborsi tingkat akhir sering terjadi dalam waktu seminggu setelah aborsi.
Dengan mengetahui efek samping aborsi, risiko aborsi, dan bahaya aborsi, baik itu aborsi lewat jalur medis maupun ilegal (praktik gelap aborsi), tetap saja tindakan menggugurkan kandungan ini bukan jalan satu-satunya yang disarankan bagi wanita.
Risiko tinggi pasca aborsi yang bisa menyebabkan kematian, penting menjadi pertimbangan lebih jauh sebelum kamu benar-benar memutuskan untuk aborsi.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: