Ilustrasi penderita kusta (Unsplash/a3701027)
Hari Kusta Sedunia atau World Leprosy Day selalu diperingati pada akhir bulan Januari. Tahun ini, Hari Kusta Sedunia jatuh pada hari Senin (31/1/2022).
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan, peringatan Hari Kusta Sedunia bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dan kepedulian masyarakat terhadap keberadaan penyakit kusta serta penderitanya.
Hal ini bukan tanpa alasan. Pasalnya penyakit kusta masih menimbulkan stigma dan diskriminasi yang tinggi di masyarakat.
Label buruk penderita kusta
Mengutip dari Indian Journal of Public Health Research and Development, berbagai penelitian menunjukkan bahwa banyak masyarakat yang beranggapan bahwa kusta dapat disebabkan oleh makanan, kutukan, guna-guna ataupun hukuman dari Tuhan atas dosa yang telah dilakukan.
Akibatnya penderita kusta terus mengalami stigma akan kehilangan harga diri, sehingga selalu merasa rasa takut untuk bersosialisasi dan menjalani kehidupan dengan normal.
Baca juga: Hari Kusta Sedunia 2022 Bertema 'Bersatu untuk Martabat', Ini Maknanya!
Mereka selalu dirundung kesedihan, merasa bersalah, depresi, malu, kehilangan harapan yang berujung depresi.
Padahal mengutip dari Webmd, kusta merupakan penyakit menular yang menyebabkan luka parah pada kulit dan kerusakan saraf di lengan, kaki, dan area kulit di sekitar tubuh.
Penyakit ini muncul akibat adanya infeksi bakteri Mycobacterium leprae (M. leprae), sejenis bakteri yang tumbuh dengan lambat. Penularan kusta bisa melalui kontak kulit yang lama dan erat dengan pengidapnya.
Di samping itu, kusta juga bisa ditularkan lewat inhalasi alias menghirup udara. Alasannya bakteri penyebab kusta dapat hidup beberapa hari dalam bentuk droplet di udara. Namun, sebenarnya penyakit kusta bukanlah penyakit yang mudah untuk menular.
Itu mengapa sebaiknya masyarakat tidak lagi mengucilkan penderita kusta. Sebab kusta bisa dijelaskan secara medis dan pengobatanya bisa tuntas dengan jalan medis.
Bahaya stigma dan diskiriminasi
Hentikan melabeli penderita kusta dengan berbagi cap buruk sebab cacat fisik progresif yang dialami penderita kusta saja sudah berdampak pada kondisi psikologis.
Apalagi jika ditambah tekanan dari lingkungan sekitar yang mendiskriminasinya maka sangat mungkin penderita kusta akan terganggu kesehatan mentalnya.
Seperti yang dikutip dari laman Mental Health, bagi orang-orang yang mendapat label atau korban diskriminasi, stigma sosial dan diskriminasi yang mereka alami dapat membuat masalah menjadi lebih buruk dan memengaruhi kesehatan mental, sehingga mereka lebih sulit untuk pulih atau bangkit.
Ini dapat menyebabkan orang tersebut mengurung diri dan menghindar dari bantuan yang mereka butuhkan karena takut akan mengalami stigmatisasi.
Adapun dampak berbahaya dari diskriminasi dan stigma yang dapat mempengaruhi mental, di antaranya:
1. Muncul perasaan malu, putus asa, dan terisolasi.
2. Keengganan untuk meminta bantuan atau mendapatkan perawatan.
3. Kurangnya pemahaman oleh keluarga, teman, atau orang lain sehingga menghambat proses penyembuhan.
4. Lebih sedikit peluang untuk pekerjaan atau interaksi sosial.
Intimidasi, kekerasan fisik atau pelecehan.
5. Lebih sedikit peluang untuk bekerja, sekolah atau kegiatan sosial atau kesulitan menemukan lingkungan tempat tinggal.
6. Asuransi kesehatan yang tidak cukup menutupi perawatan penyakit mental.
Oleh sebab itu, sebaiknya Hari Kusta Sedunia bukan hanya dilakukan untuk peringatan semata tapi untuk gerakan nyata menghapus stigma bagi penderita kusta.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: