INDOZONE.ID - Banyak pria masih merasa harus tampil kuat, tegas, dan dominan demi memenuhi standar maskulinitas yang sudah melekat di budaya kita.
Sayangnya, pola pikir ini bisa menjelma menjadi toxic masculinity, yaitu tekanan sosial yang memaksa pria untuk menekan emosi dan selalu terlihat tangguh.
Dampaknya bukan hanya berbahaya bagi kesehatan mental, tapi juga bisa merusak hubungan dengan orang lain. Supaya lebih sadar, berikut beberapa bahaya toxic masculinity.
Baca juga: 5 Alasan Pentingnya Pria Menjadi Mapan Sebelum Berumah Tangga
5 Bahaya Toxic Masculinity
1. Mental Pria Jadi Taruhannya
Pria yang terjebak dalam toxic masculinity sering kali menahan emosi mereka. Mereka takut dianggap lemah jika menunjukkan kesedihan, stres, atau rasa takut. Sayangnya, perasaan yang dipendam terlalu lama bisa berujung pada depresi dan kecemasan.
Lebih parahnya, banyak dari mereka enggan mencari bantuan profesional karena merasa itu bukan hal yang maskulin. Padahal, menjaga kesehatan mental sama pentingnya dengan fisik.
2. Kehangatan Hubungan Perlahan Hilang
Banyak pria menganggap menunjukkan kasih sayang atau empati bisa membuat mereka terlihat kurang tegas. Akibatnya, hubungan dengan pasangan, teman, maupun keluarga terasa dingin dan jauh dari keintiman emosional. Kalau dibiarkan, hal ini bisa menimbulkan kesepian meskipun sebenarnya berada dalam hubungan yang seharusnya hangat.
Baca juga: 10 Tanda Pria Mulai Kehilangan Ketertarikan pada Pasangannya, Apa Saja?
3. Konflik Lebih Mudah Meledak Jadi Kekerasan
Budaya maskulinitas sering memuja sikap agresif, membuat pria merasa harus menyelesaikan masalah dengan kekuatan atau dominasi. Pola pikir ini bisa memicu kekerasan, baik di rumah tangga maupun dalam lingkungan sosial.
Alih-alih menyelesaikan masalah lewat komunikasi sehat, mereka lebih sering memilih jalan kekerasan yang justru merusak citra diri dan hubungan sosial.
4. Self-Care Sering Dianggap Bukan Prioritas
Banyak pria masih menganggap self-care itu tidak maskulin. Pergi ke dokter, merawat kesehatan, atau memperhatikan penampilan sering kali dianggap remeh.
Akibatnya, mereka kerap menunda pengobatan dan mengabaikan kebutuhan tubuh sendiri hingga kondisi kesehatan semakin memburuk. Padahal, merawat diri bukan tanda kelemahan, melainkan langkah penting agar bisa hidup sehat dan produktif.
5. Rawan Merasa Sendiri dan Terpinggirkan
Kebiasaan untuk selalu terlihat kuat membuat pria enggan terbuka pada orang lain. Seiring bertambah usia, hal ini dapat menimbulkan rasa kesepian yang dalam.
Studi menunjukkan bahwa pria paruh baya adalah kelompok yang paling rentan mengalami isolasi sosial. Kondisi ini berisiko tinggi bagi kesehatan, bahkan setara dengan bahaya merokok atau obesitas. Semua ini bermula dari tekanan untuk tidak menunjukkan sisi rapuh.
Toxic masculinity bukan hanya soal bagaimana pria menampilkan diri, tapi juga bagaimana masyarakat mendefinisikan maskulinitas.
Selama pola ini terus dijunjung, dampaknya akan tetap terasa, baik bagi pria maupun orang-orang di sekitarnya. Karena itu, penting untuk membangun maskulinitas yang sehat dan kuat, tapi tetap penuh empati dan mampu mengekspresikan diri dengan jujur.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Timesofindia.indiatimes.com