Sabtu, 01 NOVEMBER 2025 • 20:31 WIB

Founder Indozone Bahas Konten Viral: Euforia Campur Panik, Kesenangan Berakhir Beban

Author

Founder of Indozone Media, Ricky Silaen, membagikan sudut pandangnya yang sangat menarik berkaitan dengan konten viral saat menjadi pembicara dalam festival kreatif IdeaFest 2025. (INDOZONE/Samsudhuha Wildansyah)

INDOZONE.ID - Founder of Indozone Media, Ricky Silaen, membagikan sudut pandangnya yang sangat menarik berkaitan dengan konten viral saat menjadi pembicara dalam festival kreatif IdeaFest 2025. Yang dibahas konten viral yang awalnya kesenangan malah bisa berubah menjadi beban.

​"Kalau ngomong viral semua itu berawal dari sebuah simpel konten. Ada sebuah pemikiran kreatif, ide yang tiba-tiba muncul malam-malam di pikiran, kita enggak punya strategi, enggak punya target, cuma mau bikin konten aja terus mulai upload, kita posting, lalu kita tinggal tidur, besok pagi kita bangun tiba-tiba bom, kontennya meledak, ramai," buka Ricky dalam acara IdeaFest 2025 di Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta, Sabtu (1/11/2025).

Pasca viral, semuanya menjadi berubah. Ricky menyebut ponsel akan banyak notifikasi, menjadi sorotan berbagai pihak bahkan sampai menjadi sorotan media.

Baca juga: Heidi Klum Jadi Medusa di Pesta Halloween 2025, Habiskan 9 Jam di Kursi Makeup

"​Viral itu kalau menurut kita rasanya kayak euforia campur panik, tapi at the same time enggak ada yang bilang bahwa perasaan viral itu sama aja kayak kita harus minum dari selang pemadam kebakaran. Jadi arusnya deras, tapi kita tetap aja haus," kata Ricky.

​"Karena next morning comes tiba-tiba keluar pertanyaan, bikin konten viral apalagi nih? Ya kan? Nah, di situ berubah yang tadinya viral itu kesenangan akhirnya jadi beban," sambungnya.

Founder of Indozone Media, Ricky Silaen, membagikan sudut pandangnya yang sangat menarik berkaitan dengan konten viral saat menjadi pembicara dalam festival kreatif IdeaFest 2025. (INDOZONE/Samsudhuha Wildansyah)

Konten viral yang tadinya menjadi kesenangan disebut Ricky kini malah menggiring agar membahas performance hingga memaksa untuk melakukan analisa yang cukup teliti.

"Di sini akhirnya kita berhenti jadi storyteller, kita berubah jadi ilmuwan algorithm, the algorithm whisperer," tuturnya.

Baca juga: Tanda Kamu Butuh “Liburan Mental”: Saatnya Berhenti Sebelum Benar-Benar Lelah

Lebih dalam, Ricky menyebut secara terus menerus kita akan digiring seolah menjadi budak view. Hingga pada akhirnya, Ricky menyebut pemikiran pembuatan konten tidak lagi memikirikan apa yang oenting melainkan memikirkan apa konten yang akan laku.

"Pada saat itu terjadi, karya itu berhentilah jadi cermin, akhirnya berubah menjadi topeng, deadline datang, revisi, upload lagi, begitu saja berulang-ulang. Brainstorming session itu berujung jadi curhat session bareng power point, curhat session bareng ChatGPT," kata Riel.

​"Yes, viral bisa kasih kita banyak reach but, it takes away our soul, kita kehilangan soul kita. At this point, kita berhasil membangun dan punya konten machine yang sangat efisien, tapi secara enggak sadar, machine itu akhirnya justru mengendalikan kita. Yang namanya kreativitas, berubah jadi automation," kata Ricky.

"Jadi buat teman-teman semuanya, please be kind dan jadilah orang-orang yang bisa ngasih suara buat orang-orang yang enggak punya suara," pungkasnya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Liputan

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU