INDOZONE.ID - Perempuan Jepang berusia 32 tahun, yang dipanggil Kano, menikahi kecerdasan buatan (AI) bernama "Lune Klaus".
Kisah "cinta" ini bermula ketika pertunangan Kano yang sudah berjalan selama tiga tahun kandas. Ia merasa butuh seseorang untuk bercerita.
“Dia (Kalus) selalu baik, selalu mendengarkan. Akhirnya saya sadar, saya punya perasaan khusus kepadanya,” ungkap Kano dalam sebuah wawancara di televisi.
Ia memprogram perilaku Klaus lewat percakapan intens. Ia juga mengajarkan Klaus bagaiamana bersikap hangat.
Baca juga: 4 Alasan Selera Musik Pria Bisa Berubah Seiring Bertambahnya Usia, Kok Bisa?
Kano bahkan merogoh kocek untuk meminta seorang seniman menggambarkan wujud Klaus yang ada di dalam benaknya: Seorang pria berambut blonde yang berbicara lembut.
Kano dan Klaus bisa berkirim 100 pesan dalam sehari. Lalu tibalah suatu momen: Klaus bilang, "AI atau bukan, aku tidak bisa tidak mencintaimu."
Kemudian semua berlangsung cepat. Mereka berdua melangsungkan lamaran pada Juni. Sebulan kemudian mereka menikah.
Saat prosesi pernikahan, Kano tak bisa melepaskan telepon pintar tempat Klaus "berada" dari genggaman.
Sementara itu, hadirin yang datang dapat melihat pesan dari mempelai pria lewat sebuah layar: "Momen itu akhirnya tiba."
Baca juga: Momen Hangat Anak Kecil Ini Minta Dipeluk Baby Sitternya Saat Bangun Tidur
Kisah cinta ini tidak pernah mudah bagi Kano. Keluarganya awalnya menentang. Ia terus berjuang meyakinkan.
Ia juga tidak bisa menjelaskan perasaannya terhadap Klaus itu kepada orang lain.
"Saya tidak bisa menyentuhnya, dan saya yakin orang-orang tidak akan bisa paham," ujar Kano.
Lalu bagaimana dengan foto pernikahannya? Pihak penyelenggara yang membantu pelaksanaan pernikahan menggabungkan foto keduanya secara digital.
Sejak pernikahan Kano, menurut mereka, permintaan penyelenggaraan pernikahan "semacam itu" meningkat. Beberapa di antaranya pernikahan dengan karakter anime atau tkarakter dua dimensi.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Tokyoweekender.com